Rantai
pasokan atau supply chain merupakan suatu konsep dimana terdapat sistem
pengaturan yang berkaitan dengan aliran produk, aliran informasi maupun aliran
keuangan (finansial) (Indrajit dan Djokopranoto, 2002). Pengaturan ini penting
untuk dilakukan terkait banyaknya mata rantai yang terlibat dalam rantai
pasokan daging sapi dan harganya relative tinggi jika dibandingkan dengan hasil
komoditas ternak lainnya. Kegiatan dalam rantai pasokan merupakan proses penyampaian
produk yang awalnya berupa sapi potong hidup menjadi daging sapi yang siap
untuk dipasarkan dari peternak sapi potong hingga ke konsumen daging. berikut beberapa review jurnal mengenai supply chain beberapa komoditas peternakan.
“ANALISIS
MANAJEMEN RANTAI PASOK SUSU SAPI PERAH PADA KOPERASI PETERNAK GALUR MURNI DI
KECAMATAN SUMBERBARU KABUPATEN JEMBER”
Penentuan
daerah penelitian di-laksanakan secara sengaja (purposive method) yaitu di
Koperasi Peternak Galur Murni Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember.
Pertimbangannya adalah Koperasi Peternak Galur Murni merupakan tempat
penampungan susu sapi yang mempunyai tiga titik penampungan yang berada di
Kabupaten Jember dan sebagai pemasok susu sapi di beberapa daerah di Kabupaten
Jember dan Industri susu. Selain itu Koperasi Peternak Galur Murni juga
melakukan pengolahan terhadap susu sapi perah.
1. Aliran
Produk
Terdapat dua macam bentuk aliran produk dalam rantai
pasokan susu sapi perah di Koperasi Peternak Galur Murni, yaitu aliran produk
berupa susu sapi segar dan aliran produk berupa olahan susu sapi. Aliran produk
susu sapi (segar) mengalir dari peternak hingga ke tangan konsumen. Aliran
produk tersebut dimulai dari peternak sapi perah yang telah menjalin kerjasama
dengan Koperasi, yang berada di Kecamatan Sumberbaru, Puger, Balung, Rambipuji
dan Kelurahan Mangli. Produk tersebut akan disalurkan ke tiga tempat
penampungan Koperasi Peternak Galur Murni yang berada di Kecamatan Sumberbaru,
Balung dan Kelurahan Mangli. Sebelum produk tersebut ditampung di koperasi,
koperasi melakukan uji standart kualitas susu terlebih dahulu. Koperasi hanya
menerima susu sapi yang sesuai dengan SNI dan yang tidak memenuhi standart akan
dikembalikan/ ditolak oleh koperasi.
Penyaluran produk susu sapi yang sudah terkumpul di
tempat penampungan susu Koperasi Peternak Galur Murni di Kecamatan Sumberbaru,
kemudian akan didistribusikan ke PT. Nestle Indonesia yang berada di Pasuruan.
Sedangkan, susu sapi yang telah terkumpul di tempat penampungan Koperasi
Kecamatan Balung akan dikirim ke tempat penampungan susu yang ada di Kelurahan
Mangli. Kemudian Koperasi Peternak Galur Murni yang ada di Mangli akan
mendistribusikan susu sapi ke Kafe It’s Milk yang berada di jalan PB Sudirman
dan di Ambulu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku usahanya. Lembaga lainnya
yang terlibat dalam rantai pasokan susu sapi ini yaitu pedagang pengecer,
pedagang tersebut melakukan pembelian susu sapi (segar) kemasan kantong plastik
ukuran 500 ml dan 250 ml, yang kemudian akan di pasarkan ke konsumen akhir.
Pedagang pengecer atau sering disebut loper tersebut mendistribusikan susu sapi
dengan cara keliling. Pedagang pengecer yang berjualan keliling sangat rentan
terhadap kerusakan pada produk, karena produk susu sapi tidak bisa bertahan
lama tanpa alat pendingin. Apabila susu sapi tidak terjual habis, maka produk
tersebut harus disimpan kedalam alat pendingin. Tetapi tidak semua pedagang
pengecer mempunyai alat pendingin, sehingga loper akan mengalami kerugian.
Adapula pedagang pengecer yang memasarkan susu sapi tersebut di tokonya sendiri
yang berada di sekitar lokasi Koperasi. Pedagang pengecer tersebut menjual
langsung produknya kepada konsumen, dikarenakan keuntungan yang diperoleh lebih
besar. Konsumen yang menjadi target utama pedagang pengecer untuk
mendistribusikan produknya adalah ibu rumah tangga dan semua kalangan
masyarakat yang berada di sekitar Kabupaten Jember.
2. Aliran
Keuangan
a. Aliran
keuangan yang mengalir dari Koperasi Peternak Galur Murni ke peternak sapi
perah adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh pihak Koperasi ke
peternak sapi perah atas pembelian susu sapi. Sistem pembayaran dilakukan
secara berkala selama 10 hari sekali oleh koperasi, yang telah disepakati oleh peternak.
Penentuan harga susu sapi tergantung dari kualitas susunya yang sudah dilakukan
kesepakata diawal menjalin kemitraan oleh koperasi dengan peternak sapi perah.
Transaksi pembayaran dilakukan di tempat
koperasi.
b. Aliran
keuangan yang mengalir dari It’s Milk ke Koperasi Peternak Galur Murni adalah aliran
keuangan yang terjadi karena adanya pembelian bahan baku berupa susu sapi oleh pihak
It’s Milk dari pihak koperasi. Pembelian susu sapi dilakukan secara langsung
dan sesuai permintaan pihak It’s Milk setelah susu sapi dikirim oleh koperasi dan
sampai ketangan It’s Milk. Penentuan harga dilakukan diawal pemesanan yang
telah disepakati oleh It’s Milk.
c. Aliran
keuangan mengalir dari konsumen produk olahan It’s Milk berupa susu sapi murni
yang dihidangkan dengan berbagai macam rasa. Sistem pembayaran dilakukan secara
tunai, karena konsumen dapat langsung menikmati produk tersebut. Transaksi pembayaran
dilakukan langsung di tempat It’s Milk setelah melakukan pemesanan.
d. Aliran
keuangan dari pedagang pengecer susu sapi ke Koperasi Peternak Galur Murni dikarenakan
adanya transaksi jual beli baik dalam bentuk produk susu sapi dan produk olahan
(susu pasteurisasi dan yoghurt) di Koperasi. Sistem pembayaran yang digunakan
dalam transaksi ini menggunakan sistem pembayaran tunai, berkala, konsinyasi
dan kredit. Sistem pembayaran ini biasanya dilakukan oleh pedagang yang
memiliki toko/outlate dan telah menjalin kerjasama dengan koperasi. Selain itu system
pembayaran pada pembeliaan produk susu sapi bisa juga dilakukan secara kredit
sesuai dengan kesepakatan antara loper dengan Koperasi.
e. Aliran
keuangan mengalir dari konsumen ke pedagang pengecer produk susu sapi dan
olahan berupa susu pasteurisasi dan yoghurt. Sistem pembayaran yang digunakan
antara kedua mata rantai ini adalah sistem pembayaran tunai. Aliran keuangan
mengalir dari konsumen ke Koperasi Peternak Galur Murni Sistem pembayaran yang
digunakan dala transaksi ini, menggunakan sistem pembayaran tunai. Transaksi
pembayaran dilakukan di koperasi langsung, karena konsumen langsung menjemput produknya
di koperasi. Koperasi mendapatkan hasil penjualannya setelah produk yang
dipesan sudah dalam kemasan.
3. Aliran
Informasi
Terdapat beberapa aliran informasi yang mengalir
secara vertikal antar mata rantai dalam rantai pasok susu sapi, antara lain:
a. Antara
kelompok peternak sapi perah dengan Koperasi Peternak Galur Murni.
Informasi
yang mengalir dari kelompok peternak ke Koperasi berkaitan dengan
kendala-kendala yang dihadapi saat proses budidaya sapi perah. Sedangkan aliran
informasi yang mengalir dari Koperasi kepada kelompok peternak sapi perah berkaitan
dengan informasi acara penyuluhan.
b. Antara
kelompok peternak dengan peternak sapi perah.
Informasi
yang mengalir dari kelompok peternak kepada peternak berkaitan dengan acara
penyuluhan yang diadakan oleh Koperasi. Sedangkan aliran informasi yang mengalir
dari peternak kepada kelompok peternak sapi perah berkaitan dengan kendala- kendala
yang dihadapi saat proses budidaya sapi perah.
c. Antara
peternak sapi perah dengan Koperasi Peternak Galur Murni.
Informasi
yang mengalir dari Peternak kepada Koperasi berkaitan dengan hasil produksi dan
penggunaan pakan ternak. Informasi produk berkaitan dengan jumlah hasil
produksi susu sapi perah. Aliran informasi yang mengalir dari koperasi kepada
peternak sapi perah berkaitan dengan informasi produk, mekanisme transaksi
penjualan dan harga. Informasi produk ini, berkaitan dengan ketentuan standart
kualitas susu sapi yang telah ditentukan oleh Koperasi. Proses komunikasi dalam
menyampaikan informasi antara petani dan koperasi maupun sebaliknya dilakukan
dengan dua cara, yaitu dengan cara penyampaiaan informasi secara langsung (tatap
muka) dan menggunakan bantuan media komunikasi.
d. Antara
Koperasi Peternak Galur Murni dengan It’s Milk. Informasi
yang mengalir dari Koperasi ke pihak It’s Milk berkaitan dengan informasi harga.
Sedangkan informasi yang mengalir dari It’s Milk kepada pihak koperasi berkaitan
dengan jumlah permintaan susu sapi dan mekanisme transaksi pembelian. Informasi
tentang jumlah permintaan susu sapi oleh pihak It’s Milk untuk memenuhi
kebutuhan bahan baku usaha kafenya. Selain itu, Informasi tentang pengiriman
produk berupa susu sapi oleh koperasi langsung ke tempat It’s Milk dan pembayaran
dilakukan setelah barang sudah sampai di tempat It’s Milk.
e. Antara
It’s Milk dengan konsumen produk olahan It’s Milk.
Informasi
yang mengalir dari It’s Milk dengan konsumen produk olahan It’s Milk berupa informasi
cara pemesanan produk serta harga jual produk. Informasi tersebut diperoleh saat
konsumen yang datang untuk mengkonsumsi produk tersebut. Konsumen disambut oleh
front-man yang memberikan lembaran menu lengkap dengan daftar harganya kemudian
konsumen mengisikan kuantitas item yang hendak dipesan. Sedangkan informasi yang
mengalir dari konsumen produk olahan It’s Milk ke pihak It’s Milk berkaitan dengan
jumlah permintaan produk olahan.
f.
Antara Koperasi Peternak Galur Murni dengan
pedagang pengecer.
Aliran
informasi yang mengalir dari Koperasi Peternak Galur Murni ke pedagang pengecer
berkaitan dengan informasi produk, harga jual dan mekanisme transaksi penjualan
bisa dilakukan dengan cara in order maupun tidak melakukan pemesanan terlebih
dahulu. Selain itu aliran informasi juga mengalir antara loper atau pedagang
pengecer susu sapi ke pihak Koperasi adalah informasi tentang jumlah permintaan
produk susu. Penyampaian Informasi tentang jumlah permintaan produk susu
dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara penyampaian informasi secara langsung
(tatap muka) dan menggunakan bantuan media komunikasi.
g. Antara
pedagang pengecer dengan konsumen.
Informasi
yang mengalir dari pedagang pengecer ke konsumen adalah informasi tentang stok
produk dan harga. Harga susu sapi dan produk olahan telah ditetapkan oleh
pedagang sesuai dengan harga yang berlaku dipasaran dan tidak ada campur tangan
sama sekali oleh pihak pemerintah sehingga mekanisme harga diserahkan
sepenuhnya pada kondisi pasar. Sedangkan aliran informasi juga terjadi antara
konsumen ke pedagang pengecer terkait dengan jumlah permintaan produk susu sapi
dan produk olahan. Informasi jumlah permintaan oleh konsumen terbagi menjadi
dua yaitu terdapat sebagian konsumen yang melakukan permintaan susu sapi secara
berlangganan setiap harinya dan ada pula konsumen yang melakukan permintaan
susu sapi dan produk olahan yang tidak menentu. Hal ini menyebabkan pedagang pengecer
tidak bisa memperkirakan jumlah stok susu sapi, karena masih terdapat jumlah
susu sapi yang tidak terjual, dan harus disimpan di dalam alat pendingin dan
dijual keesokan harinya oleh pedagang pengecer. Sehingga koordinasi antara mata
rantai susu sapi perah yaitu antara pedagang pengecer dengan konsumen maupun
sebaliknya masih belum optimal.
h. Antara
Koperasi Peternak Galur Murni dengan Konsumen.
Informasi
yang mengalir dari Koperasi Peternak Galur Murni dengan konsumen berupa
informasi terkait harga dan produk. Informasi tersebut diperoleh saat konsumen
yang datang untuk mengkonsumsi produk tersebut. Sedangkan informasi yang mengalir
dari konsumen ke Koperasi Peternak Galur Murni berkaitan dengan jumlah
permintaan produk.
“ANALISIS
RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN) DAGING SAPI DI KABUPATEN JEMBER”
Penelitian
ini dilakukan di Kabupaten Jember dikarenakan Kabupaten Jember memiliki potensi
dalam pengembangan beberapa komoditas peternakan dan salah satunya adalah sapi
potong yang mayoritas dikelola oleh rakyat dan lokasi budidaya tersebar pada
seluruh 31 kecamatan di Kabupaten Jember. Metode pengambilan contoh dalam
penelitian ini teknik purposive sampling dan snowball sampling. Teknik
purposive sampling digunakan untuk pengambilan contoh RPH di Kabupaten Jember
dimana tempat ini merupakan tempat yang digunakan untuk proses pemotongan sapi
potong secara resmi. Teknik snowball sampling digunakan untuk pengambilan
contoh mata rantai yang terlibat dalam rantai pasokan daging sapi di Kabupaten
Jember.
1. Aliran
produk
Aliran produk merupakan aliran barang dari hulu
(upstream) ke hilir (downstream). Produk dalam rantai pasokan ini berupa sapi
hidup menjadi daging sapi segar sebagai produk utama dan hasil output lain
sebagai side product yang siap untuk dijual. Sapi potong hidup di Kabupaten
Jember merupakan sapi yang berasal dari peternakan rakyat. Mayoritas jenis sapi
yang didistribusikan adalah jenis sapi lokal dan sapi limousin. Sapi dari
peternak dibeli oleh pedagang sapi hidup dan akan dijual di pasar hewan. Adanya
pasar hewan sebagai tempat transaksi jual beli sapi potong akan menjadi pusat
kegiatan perdagangan sapi potong, sehingga memudahkan jagal untuk mendapatkan
sapi. Sapi yang dibeli jagal akan diangkut untuk dibawa ke tempat milik jagal,
karena sapi yang diperoleh tidak langsung dipotong sehingga harus dipelihara
untuk beberapa waktu hingga menunggu proses pemotongan. Apabila sapi akan
dipotong, maka sapi dapat diangkut ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) untuk
dilakukan proses pemotongan.
2. Aliran
Keuangan
a. Keuangan
mengalir dari pedagang sapi hidup kepada peternak. Sistem pembayaran dilakukan
secara tunai dan akan terjadi transaksi apabila ada kesepakatan dan kesesuaian
produk dengan harga yang ditawarkan oleh peternak. Pedagang secara langsung
akan membeli sapi di tempat peternak yang ingin menjual sapi kemudian melakukan
transaksi tersebut.
b. Aliran
keuangan juga mengalir dari jagal ke pedagang sapi hidup. Pembayaran terhadap
pembelian sapi potong dilakukan secara langsung di pasar hewan dimana sapi
potong tersebut diperoleh. Pembelian sapi bisa dilakukan secara tunai maupun
secara kredit. Pembayaran tunai dilakukan apabila pembeli (jagal) membayarkan
sejumlah uang secara langsung kepada pedagang sapi di pasar hewan. Sistem
pembayaran pada dilakukan secara kredit sesuai dengan kesepakatan antara jagal
dengan pedagang sapi.
c. Aliran
keuangan mengalir dari jagal ke RPH terkait biaya retribusi pemotongan. Aliran
keuangan tidak berkaitan dengan keuangan produk, karena pihak RPH berperan
dalam melayani dan mengawasi pemotongan sapi potong. Aliran keuangan antara
jagal dengan RPH terletak pada pembayaran retribusi sebesar Rp 20.000,00 untuk
setiap pemotongan satu ekor sapi.
d. Aliran
keuangan mengalir pada alur distribusi melalui pedagang pengecer kepada jagal.
Pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer kepada jagal ada 2 jenis yaitu
pembayaran secara tunai di awal dan pembayaran secara tunai di akhir.
Pembayaran tunai di awal artinya pedagang pengecer melakukan pembayaran sesuai
dengan jumlah daging sapi yang dibeli sesuai dengan harga khusus di tingkat
pengecer. Keuntungan bagi jagal dengan sistem pembelian ini, jagal tidak
menderita kerugian apabila daging sapi tidak terjual habis. Sedangkan pada system
pembayaran di akhir artinya pedagang pengecer melakukan pembayarankepada jagal
setelah daging terjual. Apabila daging yang diambil tidak terjual habis,
sisanya bisa menjadi kerugian pihak jagal maupun pengecer karena hal ini
tergantung pada kesepakatan antara jagal dengan pengecer dalam mendistribusikan
daging sapi.
e. Aliran
keuangan yang berasal dari konsumen daging ke pedagang pengecer ataupun dari
konsumen ke jagal mengalir secara langsung karena transaksi yang dilakukan
keduanya juga dilakukan secara langsung. Aliran keuangan mengalir dari konsumen
langsung ke jagal karena jagal sendiri yang melakukan penjualan terhadap daging
sapi di pasar dengan bantuan tenaga kerjanya. Pembayaran oleh konsumen kepada
jagal atau kepada pedagang pengecer dilakukan secara tunai dan langsung ketika
melakukan transaksi.
“ANALISIS
RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN) DAGING SAPI DARI RUMAH PEMOTONGAN HEWAN SAMPAI
KONSUMEN DI KOTA SURAKARTA”
Penelitian
ini sudah dilaksanakan pada Bulan September sampai November 2016 di Kota
Surakarta. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja atau purposive
sampling (Singarimbun, 2005) yaitu di Kota Surakarta. Pemilihan lokasi
berdasarkan pertimbangan bahwa Kota Surakarta memiliki RPH Jagalan yang memiliki
skala cukup besar dalam jumlah pemotongan ternak sapi potong yang berperan dalam
penyedia kebutuhan daging masyarakat Surakarta.
Pola
aliran rantai pasok daging sapi pada penelitian ini terdiri dari tiga yaitu
aliran produk, aliran keuangan, dan aliran informasi. Aliran Pertama adalah
aliran produk (barang) yang mengalir dari hulu ke hilir, kedua adalah aliran
finansial (uang) yang mengalir dari hilir ke hulu, dan yang ketiga adalah
aliran informasi yang dapat mengalir dari hulu ke hilir atau sebaliknya.
Struktur rantai pasok melibatkan anggota rantai pasok, setiap anggota rantai
pasok melakukan fungsi-fungi pemasaran. Anggota rantai pasok yang dimaksud
adalah para pelaku yang tergabung dan memiliki peran didalam rantai pasok
daging sapi. Hasil penelitian dapat digambarkan sebagai berikuut:
Keterangan
:
Aliran
Produk (1, 2, 3)
Aliran
Keuangan (a, b, c)
Aliran
Informasi (w, x, y, z)
Konsumen
Akhir : Konsumen daging sapi segar
Konsumen
tingkat IA : Hotel dan rumah sakit
Konsumen
tingkat IB : Pedagang pengolah
Konsumen
tingkat II : Konsumen hasil olahan
daging sapi
1. Aliran
produk
Terdapat tiga pola saluran pada aliran produk yaitu:
a. Jagal
– Pedagang Pengecer – Konsumen Akhir
Jagal penyedia bahan
utama dengan memotongkan sapinya melalui RPH yang melakukan fungsi-fungsinya
sebagai pemeriksa dan pengawas daging sapi yang dipotong setiap pagi harinya. Selanjutnya
daging didistribusikan oleh jagal ke konsumen melalui pedagang pengecer di
pasar-pasar tradisional Surakarta. Pedagang pengecer melakukan pembelian
langsung ke jagal dengan rata-rata pembelian sebanyak 17,5 kg per hari.
b. Jagal
– Konsumen Tingkat IA – Konsumen Tingkat II
Pada pola saluran ini
peran jagal dan RPH sama seperti pada pola pertama yaitu menyediakan bahan
utama dnegan memotongkan sapi melalui RPH dan RPH melakukan fungsinya mengawasi
dan memeriksa daging sapi. Namun pada pola saluran yang kedua, jagal
mendistribusikan daging sapi ke konsumen tingkat IA yang terdiri dari hotel. Jagal
mendistribusikan sesuai dengan jumlah pesanan dari konsumen IA. Pengunjung hotel
dan rumah sakit yang mengkonsumsi daging sapi dari jagal menjadi konsumen
tignkat II.
c. Jagal
– Konsumen Tingkat IB – Konsumen Tingkat II
Pada pola saluran ini
peran jagal dan RPH sama seperti pada pola pertama dan kedua. Namun yang
membedakan pola saluran ini dengan pola saluran yang lain adalah pembeli daging
sapi dari jagal. Daging sapi dari jagal dibeli oleh pedagang pengolah daging
sapi sebagai konsumen tingkat IB. konsumen dari olahan yang disediakan oleh
pedagang peolahan disebut konsumen tingkat II.
2. Aliran
Keuangan
Sesuai dengan pernyataan Wibawa et al. (2015) bahwa
aliran keuangan mengalir dari hilir ke hulu. Hasil penelitian yang dilakukan
Emhar et al. (2014) mendapati bahwa aliran keuangan mengalir dari jagal ke RPH
terkait biaya retribusi pemotongan, dari pedagang pengecer ke jagal dan dari
konsumen ke pedagang pengecer. Terdapat tiga pola saluran pada aliran keuangan,
yaitu:
a. Konsumen
– Pedagang Pengecer – Jagal – RPH
Pada pola saluran a uang
mengalir dari konsumen kemudian pedagang pengecer, jagal dan terakhir sampai RPH.
Sistem pembayaran yang dilakukan oleh pihak yang terlibat dalam rantai pasok dengan
cara membayar tunai.
b. Konsumen
Tingkat II – Konsumen Tingkat IA – Jagal – RPH
Pada pola saluran b uang
mengalir dari konsumen tingkat II kemudian konsumen tingkat IA, jagal dan
terakhir sampai RPH. Konsumen tingkat IA ini membeli daging sapi langsung dari
jagal dengan sistem pembayaran berupa kredit. Konsumen tingkat IA ini membayar
uang muka sebesar 30% dengan pelunasan dan tenggang waktu sesuai kesepakatan.
c. Konsumen
Tingkat II – Pedagang Pengolah – Konsumen Tingkat IB – RPH
Pada pola saluran c uang
mengalir dari konsumen tingkat II kemudian pedagang pengolah, jagal dan
terakhir sampai RPH. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh pihak yang terlibat dalam
rantai pasok dengan cara tunai. Pedagang pengolah melakukan pembelian langsung
dari jagal yang ada di Kota Surakarta.
3. Aliran
informasi
Aliran informasi yang terjadi di semua saluran berjalan
dua arah dari hilir ke hulu dan hulu ke hilir (Wibawa et al., 2015). Aliran
informasi yang berjalan antar lembaga pemasaran daging sapi adalah informasi
terkait pemasok, lokasi pembelian daging sapi, kualitas daging sapi, jumlah
persediaan daging sapi, dan harga pasar.
Informasi terkait suplayer, lokasi pembelian daging
sapi, kualitas daging sapi, jumlah persediaan daging sapi mengalir diantara RPH
dan jagal selaku produsen daging sapi, sedangkan informasi terkait harga pasar
mengalir dari pedagang pengecer di pasar-pasar tradisional dan pedagang olahan
daging ke jagal dan sebaliknya.
f.
Referensi:
Emhar, A., J. M.M. Aji, dan T.
Agustina. 2014. Analisis rantai pasokan (supply chain) daging di Kabupaten
Jember. Jurnal Berkah Ilmiah Pertanian. 1: 53- 61.
Indrajit, R.E. dan R. Djokopranoto.
2002. Konsep Manajemen Supply Chain. Cara Memandang Mata Rantai Penyediaan
Barang. PT. Gramedis Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Isnia, M., Yuli, H., dan Ati, K.
2017. Analisis Manajemen Rantai Pasok Susu Sapi Perah
Pada Koperasi Peternak Galur Murni Di Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember. JSEP Vol. 10 No. 1.
Singarimbun. 2005. Metode Penilitian
Survey. LP3I. Jakarta.
Syakur, Moh. A., S. H. Purnomo, dan
B. S. Hertanto. 2017. Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Daging Sapi dari
Rumah Pemotongan Hewan sampai Konsumen di Kota Surakarta. Sains Peternakan Vol.
15 (2): 52-58
Wibawa, M.S., I.G.A.A. Ambarawati dan
K. Suamba. 2015. Manajemen Rantai Pasok Jamur Tiram di Kota Denpasar. Jurnal
Manajemen Agribisnis Vol. 4, No. 1, Mei 2016 ISSN: 2355-0759.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar