Rabu, 25 Maret 2020

Rantai Pasok (Supply Chain) Peternakan


Rantai pasokan atau supply chain merupakan suatu konsep dimana terdapat sistem pengaturan yang berkaitan dengan aliran produk, aliran informasi maupun aliran keuangan (finansial) (Indrajit dan Djokopranoto, 2002). Pengaturan ini penting untuk dilakukan terkait banyaknya mata rantai yang terlibat dalam rantai pasokan daging sapi dan harganya relative tinggi jika dibandingkan dengan hasil komoditas ternak lainnya. Kegiatan dalam rantai pasokan merupakan proses penyampaian produk yang awalnya berupa sapi potong hidup menjadi daging sapi yang siap untuk dipasarkan dari peternak sapi potong hingga ke konsumen daging. berikut beberapa review jurnal mengenai supply chain beberapa komoditas peternakan.

“ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOK SUSU SAPI PERAH PADA KOPERASI PETERNAK GALUR MURNI DI KECAMATAN SUMBERBARU KABUPATEN JEMBER”
Penentuan daerah penelitian di-laksanakan secara sengaja (purposive method) yaitu di Koperasi Peternak Galur Murni Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember. Pertimbangannya adalah Koperasi Peternak Galur Murni merupakan tempat penampungan susu sapi yang mempunyai tiga titik penampungan yang berada di Kabupaten Jember dan sebagai pemasok susu sapi di beberapa daerah di Kabupaten Jember dan Industri susu. Selain itu Koperasi Peternak Galur Murni juga melakukan pengolahan terhadap susu sapi perah.


1.      Aliran Produk
Terdapat dua macam bentuk aliran produk dalam rantai pasokan susu sapi perah di Koperasi Peternak Galur Murni, yaitu aliran produk berupa susu sapi segar dan aliran produk berupa olahan susu sapi. Aliran produk susu sapi (segar) mengalir dari peternak hingga ke tangan konsumen. Aliran produk tersebut dimulai dari peternak sapi perah yang telah menjalin kerjasama dengan Koperasi, yang berada di Kecamatan Sumberbaru, Puger, Balung, Rambipuji dan Kelurahan Mangli. Produk tersebut akan disalurkan ke tiga tempat penampungan Koperasi Peternak Galur Murni yang berada di Kecamatan Sumberbaru, Balung dan Kelurahan Mangli. Sebelum produk tersebut ditampung di koperasi, koperasi melakukan uji standart kualitas susu terlebih dahulu. Koperasi hanya menerima susu sapi yang sesuai dengan SNI dan yang tidak memenuhi standart akan dikembalikan/ ditolak oleh koperasi.
Penyaluran produk susu sapi yang sudah terkumpul di tempat penampungan susu Koperasi Peternak Galur Murni di Kecamatan Sumberbaru, kemudian akan didistribusikan ke PT. Nestle Indonesia yang berada di Pasuruan. Sedangkan, susu sapi yang telah terkumpul di tempat penampungan Koperasi Kecamatan Balung akan dikirim ke tempat penampungan susu yang ada di Kelurahan Mangli. Kemudian Koperasi Peternak Galur Murni yang ada di Mangli akan mendistribusikan susu sapi ke Kafe It’s Milk yang berada di jalan PB Sudirman dan di Ambulu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku usahanya. Lembaga lainnya yang terlibat dalam rantai pasokan susu sapi ini yaitu pedagang pengecer, pedagang tersebut melakukan pembelian susu sapi (segar) kemasan kantong plastik ukuran 500 ml dan 250 ml, yang kemudian akan di pasarkan ke konsumen akhir. Pedagang pengecer atau sering disebut loper tersebut mendistribusikan susu sapi dengan cara keliling. Pedagang pengecer yang berjualan keliling sangat rentan terhadap kerusakan pada produk, karena produk susu sapi tidak bisa bertahan lama tanpa alat pendingin. Apabila susu sapi tidak terjual habis, maka produk tersebut harus disimpan kedalam alat pendingin. Tetapi tidak semua pedagang pengecer mempunyai alat pendingin, sehingga loper akan mengalami kerugian. Adapula pedagang pengecer yang memasarkan susu sapi tersebut di tokonya sendiri yang berada di sekitar lokasi Koperasi. Pedagang pengecer tersebut menjual langsung produknya kepada konsumen, dikarenakan keuntungan yang diperoleh lebih besar. Konsumen yang menjadi target utama pedagang pengecer untuk mendistribusikan produknya adalah ibu rumah tangga dan semua kalangan masyarakat yang berada di sekitar Kabupaten Jember.
2.      Aliran Keuangan
a.       Aliran keuangan yang mengalir dari Koperasi Peternak Galur Murni ke peternak sapi perah adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh pihak Koperasi ke peternak sapi perah atas pembelian susu sapi. Sistem pembayaran dilakukan secara berkala selama 10 hari sekali oleh koperasi, yang telah disepakati oleh peternak. Penentuan harga susu sapi tergantung dari kualitas susunya yang sudah dilakukan kesepakata diawal menjalin kemitraan oleh koperasi dengan peternak sapi perah. Transaksi pembayaran  dilakukan di tempat koperasi.
b.      Aliran keuangan yang mengalir dari It’s Milk ke Koperasi Peternak Galur Murni adalah aliran keuangan yang terjadi karena adanya pembelian bahan baku berupa susu sapi oleh pihak It’s Milk dari pihak koperasi. Pembelian susu sapi dilakukan secara langsung dan sesuai permintaan pihak It’s Milk setelah susu sapi dikirim oleh koperasi dan sampai ketangan It’s Milk. Penentuan harga dilakukan diawal pemesanan yang telah disepakati oleh It’s Milk.
c.       Aliran keuangan mengalir dari konsumen produk olahan It’s Milk berupa susu sapi murni yang dihidangkan dengan berbagai macam rasa. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai, karena konsumen dapat langsung menikmati produk tersebut. Transaksi pembayaran dilakukan langsung di tempat It’s Milk setelah melakukan pemesanan.
d.      Aliran keuangan dari pedagang pengecer susu sapi ke Koperasi Peternak Galur Murni dikarenakan adanya transaksi jual beli baik dalam bentuk produk susu sapi dan produk olahan (susu pasteurisasi dan yoghurt) di Koperasi. Sistem pembayaran yang digunakan dalam transaksi ini menggunakan sistem pembayaran tunai, berkala, konsinyasi dan kredit. Sistem pembayaran ini biasanya dilakukan oleh pedagang yang memiliki toko/outlate dan telah menjalin kerjasama dengan koperasi. Selain itu system pembayaran pada pembeliaan produk susu sapi bisa juga dilakukan secara kredit sesuai dengan kesepakatan antara loper dengan Koperasi.
e.       Aliran keuangan mengalir dari konsumen ke pedagang pengecer produk susu sapi dan olahan berupa susu pasteurisasi dan yoghurt. Sistem pembayaran yang digunakan antara kedua mata rantai ini adalah sistem pembayaran tunai. Aliran keuangan mengalir dari konsumen ke Koperasi Peternak Galur Murni Sistem pembayaran yang digunakan dala transaksi ini, menggunakan sistem pembayaran tunai. Transaksi pembayaran dilakukan di koperasi langsung, karena konsumen langsung menjemput produknya di koperasi. Koperasi mendapatkan hasil penjualannya setelah produk yang dipesan sudah dalam kemasan.
3.      Aliran Informasi
Terdapat beberapa aliran informasi yang mengalir secara vertikal antar mata rantai dalam rantai pasok susu sapi, antara lain:
a.      Antara kelompok peternak sapi perah dengan Koperasi Peternak Galur Murni.
Informasi yang mengalir dari kelompok peternak ke Koperasi berkaitan dengan kendala-kendala yang dihadapi saat proses budidaya sapi perah. Sedangkan aliran informasi yang mengalir dari Koperasi kepada kelompok peternak sapi perah berkaitan dengan informasi acara penyuluhan.
b.      Antara kelompok peternak dengan peternak sapi perah.
Informasi yang mengalir dari kelompok peternak kepada peternak berkaitan dengan acara penyuluhan yang diadakan oleh Koperasi. Sedangkan aliran informasi yang mengalir dari peternak kepada kelompok peternak sapi perah berkaitan dengan kendala- kendala yang dihadapi saat proses budidaya sapi perah.
c.       Antara peternak sapi perah dengan Koperasi Peternak Galur Murni.
Informasi yang mengalir dari Peternak kepada Koperasi berkaitan dengan hasil produksi dan penggunaan pakan ternak. Informasi produk berkaitan dengan jumlah hasil produksi susu sapi perah. Aliran informasi yang mengalir dari koperasi kepada peternak sapi perah berkaitan dengan informasi produk, mekanisme transaksi penjualan dan harga. Informasi produk ini, berkaitan dengan ketentuan standart kualitas susu sapi yang telah ditentukan oleh Koperasi. Proses komunikasi dalam menyampaikan informasi antara petani dan koperasi maupun sebaliknya dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara penyampaiaan informasi secara langsung (tatap muka) dan menggunakan bantuan media komunikasi.
d.      Antara Koperasi Peternak Galur Murni dengan It’s Milk. Informasi yang mengalir dari Koperasi ke pihak It’s Milk berkaitan dengan informasi harga. Sedangkan informasi yang mengalir dari It’s Milk kepada pihak koperasi berkaitan dengan jumlah permintaan susu sapi dan mekanisme transaksi pembelian. Informasi tentang jumlah permintaan susu sapi oleh pihak It’s Milk untuk memenuhi kebutuhan bahan baku usaha kafenya. Selain itu, Informasi tentang pengiriman produk berupa susu sapi oleh koperasi langsung ke tempat It’s Milk dan pembayaran dilakukan setelah barang sudah sampai di tempat It’s Milk.
e.       Antara It’s Milk dengan konsumen produk olahan It’s Milk.
Informasi yang mengalir dari It’s Milk dengan konsumen produk olahan It’s Milk berupa informasi cara pemesanan produk serta harga jual produk. Informasi tersebut diperoleh saat konsumen yang datang untuk mengkonsumsi produk tersebut. Konsumen disambut oleh front-man yang memberikan lembaran menu lengkap dengan daftar harganya kemudian konsumen mengisikan kuantitas item yang hendak dipesan. Sedangkan informasi yang mengalir dari konsumen produk olahan It’s Milk ke pihak It’s Milk berkaitan dengan jumlah permintaan produk olahan.
f.        Antara Koperasi Peternak Galur Murni dengan pedagang pengecer.
Aliran informasi yang mengalir dari Koperasi Peternak Galur Murni ke pedagang pengecer berkaitan dengan informasi produk, harga jual dan mekanisme transaksi penjualan bisa dilakukan dengan cara in order maupun tidak melakukan pemesanan terlebih dahulu. Selain itu aliran informasi juga mengalir antara loper atau pedagang pengecer susu sapi ke pihak Koperasi adalah informasi tentang jumlah permintaan produk susu. Penyampaian Informasi tentang jumlah permintaan produk susu dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara penyampaian informasi secara langsung (tatap muka) dan menggunakan bantuan media komunikasi.
g.      Antara pedagang pengecer dengan konsumen.
Informasi yang mengalir dari pedagang pengecer ke konsumen adalah informasi tentang stok produk dan harga. Harga susu sapi dan produk olahan telah ditetapkan oleh pedagang sesuai dengan harga yang berlaku dipasaran dan tidak ada campur tangan sama sekali oleh pihak pemerintah sehingga mekanisme harga diserahkan sepenuhnya pada kondisi pasar. Sedangkan aliran informasi juga terjadi antara konsumen ke pedagang pengecer terkait dengan jumlah permintaan produk susu sapi dan produk olahan. Informasi jumlah permintaan oleh konsumen terbagi menjadi dua yaitu terdapat sebagian konsumen yang melakukan permintaan susu sapi secara berlangganan setiap harinya dan ada pula konsumen yang melakukan permintaan susu sapi dan produk olahan yang tidak menentu. Hal ini menyebabkan pedagang pengecer tidak bisa memperkirakan jumlah stok susu sapi, karena masih terdapat jumlah susu sapi yang tidak terjual, dan harus disimpan di dalam alat pendingin dan dijual keesokan harinya oleh pedagang pengecer. Sehingga koordinasi antara mata rantai susu sapi perah yaitu antara pedagang pengecer dengan konsumen maupun sebaliknya masih belum optimal.
h.      Antara Koperasi Peternak Galur Murni dengan Konsumen.
Informasi yang mengalir dari Koperasi Peternak Galur Murni dengan konsumen berupa informasi terkait harga dan produk. Informasi tersebut diperoleh saat konsumen yang datang untuk mengkonsumsi produk tersebut. Sedangkan informasi yang mengalir dari konsumen ke Koperasi Peternak Galur Murni berkaitan dengan jumlah permintaan produk.


“ANALISIS RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN) DAGING SAPI DI KABUPATEN JEMBER”
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Jember dikarenakan Kabupaten Jember memiliki potensi dalam pengembangan beberapa komoditas peternakan dan salah satunya adalah sapi potong yang mayoritas dikelola oleh rakyat dan lokasi budidaya tersebar pada seluruh 31 kecamatan di Kabupaten Jember. Metode pengambilan contoh dalam penelitian ini teknik purposive sampling dan snowball sampling. Teknik purposive sampling digunakan untuk pengambilan contoh RPH di Kabupaten Jember dimana tempat ini merupakan tempat yang digunakan untuk proses pemotongan sapi potong secara resmi. Teknik snowball sampling digunakan untuk pengambilan contoh mata rantai yang terlibat dalam rantai pasokan daging sapi di Kabupaten Jember. 

1.      Aliran produk
Aliran produk merupakan aliran barang dari hulu (upstream) ke hilir (downstream). Produk dalam rantai pasokan ini berupa sapi hidup menjadi daging sapi segar sebagai produk utama dan hasil output lain sebagai side product yang siap untuk dijual. Sapi potong hidup di Kabupaten Jember merupakan sapi yang berasal dari peternakan rakyat. Mayoritas jenis sapi yang didistribusikan adalah jenis sapi lokal dan sapi limousin. Sapi dari peternak dibeli oleh pedagang sapi hidup dan akan dijual di pasar hewan. Adanya pasar hewan sebagai tempat transaksi jual beli sapi potong akan menjadi pusat kegiatan perdagangan sapi potong, sehingga memudahkan jagal untuk mendapatkan sapi. Sapi yang dibeli jagal akan diangkut untuk dibawa ke tempat milik jagal, karena sapi yang diperoleh tidak langsung dipotong sehingga harus dipelihara untuk beberapa waktu hingga menunggu proses pemotongan. Apabila sapi akan dipotong, maka sapi dapat diangkut ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) untuk dilakukan proses pemotongan.
2.      Aliran Keuangan
a.       Keuangan mengalir dari pedagang sapi hidup kepada peternak. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai dan akan terjadi transaksi apabila ada kesepakatan dan kesesuaian produk dengan harga yang ditawarkan oleh peternak. Pedagang secara langsung akan membeli sapi di tempat peternak yang ingin menjual sapi kemudian melakukan transaksi tersebut.
b.      Aliran keuangan juga mengalir dari jagal ke pedagang sapi hidup. Pembayaran terhadap pembelian sapi potong dilakukan secara langsung di pasar hewan dimana sapi potong tersebut diperoleh. Pembelian sapi bisa dilakukan secara tunai maupun secara kredit. Pembayaran tunai dilakukan apabila pembeli (jagal) membayarkan sejumlah uang secara langsung kepada pedagang sapi di pasar hewan. Sistem pembayaran pada dilakukan secara kredit sesuai dengan kesepakatan antara jagal dengan pedagang sapi.
c.       Aliran keuangan mengalir dari jagal ke RPH terkait biaya retribusi pemotongan. Aliran keuangan tidak berkaitan dengan keuangan produk, karena pihak RPH berperan dalam melayani dan mengawasi pemotongan sapi potong. Aliran keuangan antara jagal dengan RPH terletak pada pembayaran retribusi sebesar Rp 20.000,00 untuk setiap pemotongan satu ekor sapi.
d.      Aliran keuangan mengalir pada alur distribusi melalui pedagang pengecer kepada jagal. Pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer kepada jagal ada 2 jenis yaitu pembayaran secara tunai di awal dan pembayaran secara tunai di akhir. Pembayaran tunai di awal artinya pedagang pengecer melakukan pembayaran sesuai dengan jumlah daging sapi yang dibeli sesuai dengan harga khusus di tingkat pengecer. Keuntungan bagi jagal dengan sistem pembelian ini, jagal tidak menderita kerugian apabila daging sapi tidak terjual habis. Sedangkan pada system pembayaran di akhir artinya pedagang pengecer melakukan pembayarankepada jagal setelah daging terjual. Apabila daging yang diambil tidak terjual habis, sisanya bisa menjadi kerugian pihak jagal maupun pengecer karena hal ini tergantung pada kesepakatan antara jagal dengan pengecer dalam mendistribusikan daging sapi.
e.       Aliran keuangan yang berasal dari konsumen daging ke pedagang pengecer ataupun dari konsumen ke jagal mengalir secara langsung karena transaksi yang dilakukan keduanya juga dilakukan secara langsung. Aliran keuangan mengalir dari konsumen langsung ke jagal karena jagal sendiri yang melakukan penjualan terhadap daging sapi di pasar dengan bantuan tenaga kerjanya. Pembayaran oleh konsumen kepada jagal atau kepada pedagang pengecer dilakukan secara tunai dan langsung ketika melakukan transaksi.

“ANALISIS RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN) DAGING SAPI DARI RUMAH PEMOTONGAN HEWAN SAMPAI KONSUMEN DI KOTA SURAKARTA”
Penelitian ini sudah dilaksanakan pada Bulan September sampai November 2016 di Kota Surakarta. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja atau purposive sampling (Singarimbun, 2005) yaitu di Kota Surakarta. Pemilihan lokasi berdasarkan pertimbangan bahwa Kota Surakarta memiliki RPH Jagalan yang memiliki skala cukup besar dalam jumlah pemotongan ternak sapi potong yang berperan dalam penyedia kebutuhan daging masyarakat Surakarta.
Pola aliran rantai pasok daging sapi pada penelitian ini terdiri dari tiga yaitu aliran produk, aliran keuangan, dan aliran informasi. Aliran Pertama adalah aliran produk (barang) yang mengalir dari hulu ke hilir, kedua adalah aliran finansial (uang) yang mengalir dari hilir ke hulu, dan yang ketiga adalah aliran informasi yang dapat mengalir dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Struktur rantai pasok melibatkan anggota rantai pasok, setiap anggota rantai pasok melakukan fungsi-fungi pemasaran. Anggota rantai pasok yang dimaksud adalah para pelaku yang tergabung dan memiliki peran didalam rantai pasok daging sapi. Hasil penelitian dapat digambarkan sebagai berikuut:


Keterangan :
Aliran Produk             (1, 2, 3)
Aliran Keuangan         (a, b, c)
Aliran Informasi         (w, x, y, z)
Konsumen Akhir        : Konsumen daging sapi segar
Konsumen tingkat IA : Hotel dan rumah sakit
Konsumen tingkat IB : Pedagang pengolah
Konsumen tingkat II   : Konsumen hasil olahan daging sapi
1.      Aliran produk
Terdapat tiga pola saluran pada aliran produk yaitu:
a.       Jagal – Pedagang Pengecer – Konsumen Akhir
Jagal penyedia bahan utama dengan memotongkan sapinya melalui RPH yang melakukan fungsi-fungsinya sebagai pemeriksa dan pengawas daging sapi yang dipotong setiap pagi harinya. Selanjutnya daging didistribusikan oleh jagal ke konsumen melalui pedagang pengecer di pasar-pasar tradisional Surakarta. Pedagang pengecer melakukan pembelian langsung ke jagal dengan rata-rata pembelian sebanyak 17,5 kg per hari.
b.      Jagal – Konsumen Tingkat IA – Konsumen Tingkat II
Pada pola saluran ini peran jagal dan RPH sama seperti pada pola pertama yaitu menyediakan bahan utama dnegan memotongkan sapi melalui RPH dan RPH melakukan fungsinya mengawasi dan memeriksa daging sapi. Namun pada pola saluran yang kedua, jagal mendistribusikan daging sapi ke konsumen tingkat IA yang terdiri dari hotel. Jagal mendistribusikan sesuai dengan jumlah pesanan dari konsumen IA. Pengunjung hotel dan rumah sakit yang mengkonsumsi daging sapi dari jagal menjadi konsumen tignkat II.
c.       Jagal – Konsumen Tingkat IB – Konsumen Tingkat II
Pada pola saluran ini peran jagal dan RPH sama seperti pada pola pertama dan kedua. Namun yang membedakan pola saluran ini dengan pola saluran yang lain adalah pembeli daging sapi dari jagal. Daging sapi dari jagal dibeli oleh pedagang pengolah daging sapi sebagai konsumen tingkat IB. konsumen dari olahan yang disediakan oleh pedagang peolahan disebut konsumen tingkat II.
2.      Aliran Keuangan
Sesuai dengan pernyataan Wibawa et al. (2015) bahwa aliran keuangan mengalir dari hilir ke hulu. Hasil penelitian yang dilakukan Emhar et al. (2014) mendapati bahwa aliran keuangan mengalir dari jagal ke RPH terkait biaya retribusi pemotongan, dari pedagang pengecer ke jagal dan dari konsumen ke pedagang pengecer. Terdapat tiga pola saluran pada aliran keuangan, yaitu:
a.       Konsumen – Pedagang Pengecer – Jagal – RPH
Pada pola saluran a uang mengalir dari konsumen kemudian pedagang pengecer, jagal dan terakhir sampai RPH. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh pihak yang terlibat dalam rantai pasok dengan cara membayar tunai.
b.      Konsumen Tingkat II – Konsumen Tingkat IA – Jagal – RPH
Pada pola saluran b uang mengalir dari konsumen tingkat II kemudian konsumen tingkat IA, jagal dan terakhir sampai RPH. Konsumen tingkat IA ini membeli daging sapi langsung dari jagal dengan sistem pembayaran berupa kredit. Konsumen tingkat IA ini membayar uang muka sebesar 30% dengan pelunasan dan tenggang waktu sesuai kesepakatan.
c.       Konsumen Tingkat II – Pedagang Pengolah – Konsumen Tingkat IB – RPH
Pada pola saluran c uang mengalir dari konsumen tingkat II kemudian pedagang pengolah, jagal dan terakhir sampai RPH. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh pihak yang terlibat dalam rantai pasok dengan cara tunai. Pedagang pengolah melakukan pembelian langsung dari jagal yang ada di Kota Surakarta.
3.      Aliran informasi
Aliran informasi yang terjadi di semua saluran berjalan dua arah dari hilir ke hulu dan hulu ke hilir (Wibawa et al., 2015). Aliran informasi yang berjalan antar lembaga pemasaran daging sapi adalah informasi terkait pemasok, lokasi pembelian daging sapi, kualitas daging sapi, jumlah persediaan daging sapi, dan harga pasar.
Informasi terkait suplayer, lokasi pembelian daging sapi, kualitas daging sapi, jumlah persediaan daging sapi mengalir diantara RPH dan jagal selaku produsen daging sapi, sedangkan informasi terkait harga pasar mengalir dari pedagang pengecer di pasar-pasar tradisional dan pedagang olahan daging ke jagal dan sebaliknya.


f.         
Referensi:
Emhar, A., J. M.M. Aji, dan T. Agustina. 2014. Analisis rantai pasokan (supply chain) daging di Kabupaten Jember. Jurnal Berkah Ilmiah Pertanian. 1: 53- 61.
Indrajit, R.E. dan R. Djokopranoto. 2002. Konsep Manajemen Supply Chain. Cara Memandang Mata Rantai Penyediaan Barang. PT. Gramedis Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Isnia, M., Yuli, H., dan Ati, K. 2017. Analisis Manajemen Rantai Pasok Susu Sapi            Perah Pada Koperasi Peternak Galur Murni Di Kecamatan Sumberbaru    Kabupaten Jember. JSEP Vol. 10 No. 1.
Singarimbun. 2005. Metode Penilitian Survey. LP3I. Jakarta.
Syakur, Moh. A., S. H. Purnomo, dan B. S. Hertanto. 2017. Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Daging Sapi dari Rumah Pemotongan Hewan sampai Konsumen di Kota Surakarta. Sains Peternakan Vol. 15 (2): 52-58
Wibawa, M.S., I.G.A.A. Ambarawati dan K. Suamba. 2015. Manajemen Rantai Pasok Jamur Tiram di Kota Denpasar. Jurnal Manajemen Agribisnis Vol. 4, No. 1, Mei 2016 ISSN: 2355-0759.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peluang Usaha di Kala Pandemi yang Peduli dengan Petani

  Ide usaha yang dipilih oleh kelompok 7 yaitu produk berupa jamu herbal seperti temulawak, jahe, kunyit, kencur, dan sirih pinang dalam ...