Menurut Martinich (1996)
manajemen pengoperasian terdiri dari perencanaan produksi, penyusunan atau
perancangan system produksi. Pengertian produksi menurut Downey dan Erickson (1987) yaitu seperangkat
prosedur dan kegiatan yang terjadi di dalam penciptaan produk. Input produksi
peternakan terdiri dari lahan, tenaga kerja, capital (peralatan dan lain-lain),
dan skill (kemampuan).
Terdapat
dua tipe sistem produksi
1. Proses produksi berkesinambungan (continuous) ialah tahapan dalam
mengelola bahan yang terus bergerak hingga menghasilkan sebuah produk.
2. Proses produksi terputus putus (all in all out) ialah sekumpulan
komponen bahkan lebih yang akan diproses atau sedang menunggu dan membutuhkan
persediaan barang saat proses.
Jenis-jenis
proses produksi
1. Penguraian : banyak jenis produk dari satu
jenis barang
2. Peramuan : satu jenis produk dari banyak
jenis barang
3. Usaha ekstraktif : memindahkan produk dari
lingkunga alamnya
4. Pengolahan : mengubah bentuk bahan agar
lebih mudah dipasarkan
Inti
dari Kegiatan Manajemen
1. Telling : Kegiatan menyampaikan pesan atau
kemampuan melakukan komunikasi, motivasi dan persuasi.
2. 2. Selling : Kegiatan menjual atau
menawarkan. Hal ini terkait dalam proses negosiasi pengadaan sarana produksi,
melakukan kontrak/penjualan hasil.
3. Testing : Kegiatan melakukan penilaian,
pengkajian atau percobaan sesuatu yang berupa pengetahuan, keterampilan, sikap
kepribadian (tenaga kerja/calon karyawan) barang (sarana produksi : pakan dan
obat-obatan) dan alat (tempat minum, kandang).
4. 4.Consulting = kegiatan konsultasi, seperti
menanyakan teknologi yang menguntungkan kepada lembaga atau pihak-pihak
terkait, mengetahui kebijakan pemerintah atau mendiskusikan cara mengatasi
perselisihan baik tentang gangguan ketertiban farm (usaha peternakan) maupun
perjanjian dengan mitra kerja.
5. Joining = Kegiatan kerja sama. Diakui atau
tidak, maju atau mundurnya usaha sangat tergantung pada kemampuan seseorang
melakukan kerja sama.
Kunci
keberhasilan terletak pada human relation (hubungan kemanusiaan) bentuk
kerjasama dengan tenaga kerja, rekan atau mitra kerja dengan para pemimpin
(formal/non formal) dan yang paling penting adalah dengan konsumen.
6. Delegating = merupakan pelengkap inti
manajemen yang lain. Contoh, untuk mencari pasar yang menjanjikan prospek lebih
bagus diperlukan hunter yang memburu ketempat pembeli. Untuk ini diperlukan
keterlibatan beberapa orang. Baik staf atau tenaga kerja maupun mitra kerja.
STUDI KASUS
HUBUNGAN
MANAJEMEN PRODUKSI TERHADAP ANALISIS USAHA PETERNAKAN KAMBING DI KECAMATAN
CANDI KABUPATEN SIDOARJO
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui:
1. manajemen produksi usaha peternakan
kambing,
2. analisis usaha peternakan kambing, dan
3. hubungan manajemen produksi terhadap
analisis usaha peternakan kambing.
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa untuk menejemen
produksi usaha, peternak kambing di Kecamatan Candi Kabuupaten Sidoarjo melakukan
manajamen pemeliharaan meliputi frekuensi pembersihan kandang, frekuensi
pembersihan tempat makan dan minum, lama pemeliharaan, intensitas memandikan
kambing, pencatatan dan renovasi kandang serta manajemen pakan berupa penerapan
teknologi pakan.
Dari keenam
variable indicator menejemen pemeliharaan, variable yang berpengaruh paling
tinggi adalah frekuensi pembersihan kandang dan frekuensi pembersihan tempat
makan dan minum. Pembersihan tempat pakan dan minum dilakukan bersamaan dengan
pembersihan kandang. Dalam upaya menjaga kebersihan, kambing dimandikan minimal
sekali dalam dua minggu, sebaiknya pemandian dilakukan saat pagi cerah agar
kambing lebih cepat kering. Secara tidak langsung, kebersihan tubuh kambing
memiliki dampak terhadap peningkatan tingkat produksi.
Penerapan
Teknologi pakan yang dibuat peternak kambing Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo
Berupa pembuatan silase dan formulasi pakan konsentrat. Pakan tambahan yang
digunakan adalah kulit kacang hijau dan tumpi jagung. Pencampuran ampas tahu
dan kulit kedelai dicampur dengan kulit kacang hijau atau tumpi jagung kemudian
ditambahkan garam dapur. Hal tersebut dilakukan untuk efisiensi penggunaan
biaya dalam hal penyediaan pakan serta menutupi kekurangan gizi dari hijauan.
Untuk lama
pemeliharaan 5-7 bulan yang dilakukan peternak disesuaikan kondisi minat pasar
pada umumnya. Dapat disimpulkan bahwa manajemen produksi pada usaha peternakan
kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo dapat dikatakan baik pada semua
sistem manajemen produksi.
Untuk
analisis usahanya, upaya yang dilakukan peternak di Kecamatan Candi Kabupaten
Sidoarjo yaitu telah memiliki pencatatan. Peternak Kambing di Kecamatan Candi
Kabupaten Sidoarjo Lebih banyak memiliki pencatatan tentang jual beli kambing
agar peternak dapat mengadakan evaluasi terhadap peternakannya. Catatan
terpenting yang dimiliki peternak adalah catatan kesehatan dan biaya
pengeluaran. Dari hasil analisis usaha yang telah dilakukan usaha peternakan
kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo dapat dikategorikan dalam usaha
yang layak untuk dilaksanakan dengan nilai rata-rata BEP Produksi 27 ekor,
rata-rata BEP Harga Rp. Rp. 2.082.078,-, rata-rata nilai PP 1,22 dan rata-rata
nilai Rasio R/C sebesar 1,33.
Kesimpulan
akhir yang dapat diambil yaitu terdapat hubungan manajemen produksi terhadap
analisis usaha peternakan kambing di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo.
Komponen manajemen produksi yang berpengaruh pada analisis usaha adalah
manajemen pemeliharaan dan manajemen pakan.
Sumber:
Ritonga M. Z., Koesnoto S., dan Sri
Hidanah. 2017. Hubungan Manajemen Produksi Terhadap Analisis Usaha Peternakan
Kambing Di Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Agroveteriner. Vol. 5 No. 2;
200-207
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=2ahUKEwjzkYWs74joAhUWOSsKHbaBD5IQFjAAegQIARAB&url=http%3A%2F%2Falmasdi.staff.unri.ac.id%2Ffiles%2F2011%2F10%2F04-Manajemen-Produksi-AGR.pdf&usg=AOvVaw37HeeHO_zlTqZTwNvM7lSo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar