Dalam hidup manusia dibutuhkan makanan sebagai salah satu sumber kehidupannya.
Sumber makanan ini dapat berasal dari hewan dan tumbuhan. Sumber makanan yang
berasal dari hewan dapat diperoleh dari ternak dan ikan. Seiring berjalannya waktu,
jumlah populasi manusia yang tentunya membutuhkan makanan tersebut bertambah. Jadi kebutuhan pangan yang mereka perlukan juga semakin
bertambah. Namun apabila sumber-sumber pangan hanya dikonsumsi tanpa
dilakukan reproduksi, tentunya tidak akan dapat mencukupi kebutuhan
pangan manusia. Untuk menyediakan bahan pangan tersebut perlu adanya kegiatan
produksi pertanian.
Pertanian
dalam arti sempit yaitu suatu budidaya tanaman ke dalam suatu lahan untuk
mencukupi kebutuhan manusia. Sedangkan dalam arti luas pertanian adalah semua
yang mencakup kegiatan pertanian (tanaman pangan dan hortikultura), perkebunan,
kehutanan, peternakan, dan perikanan. Pertanian tentu sangat dibutuhkan dalam
memenuhi kebutuhan pangan manusia. Usaha
pertanian yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip dasar komersial atau
ekonomi yang berperan sebagai upaya penyediaan pangan bagi manusia tersebut
disebut dengan agribisnis.
Hewan
sebagai sumber protein dalam makanan manusia tentu ketersediaannya sangat dibutuhkan.
Sehingga ada orang yang melakukan proses agribisnis di bidang peternakan maupun
perikanan. Agribisnis peternakan sendiri memiliki arti suatu ssstem pengelolaan
ternak secara terpadu dan menyeluruh yang meliputi kegiatan mulai dari
pembuatan (manufacture) dan
distribusi sarana produksi ternak (sapronak), kegiatan usaha produksi
(budidaya), penyimpanan dan pengolahan, serta penyaluran dan pemasaran produk
peternakan yang didukung oleh lembaga penunjang seperti perbankan dan kebijakan
pemerintah.
Sebenarnya
semua jenis kegiatan agribisnis (termasuk agribisnis peternakan dapat
didefinisikan secara ekonomi yang saling berkaitan menjadi 3 sektor, yaitu:
1. The input supply sector atau
sektor pemasok input pertanian yaitu sektor yang memberikan pasokan bahan dan
peralatan pertanian untuk beroprasinya the
farm product sector. Sektor ini memasok pakan ternak/ikan, benih, pupuk,
bahan bakar minyak, alat pertanian, peptisida, dll.
2. The farm product sector atau
sektor budidaya pertanian merupakan sektor ynag mebngubah input pertanian
menjadi output atau komoditas primer hasil pertanian. Sektor ini
meliputipertanian pertanian dalam arti luas. Komoditas primer yang dihasilkan
adalah bahan pangan (jagung, padi, kedelai), daging, ikan, telur, susu, sayur
atau hortikultura, kayu, dan produk olahan lainnya.
3. The product marketing sector atau
sektor pemasaran hasil pertanian yang melibatkan individu dan perusahaan yang
menangani dan mengolah komoditas primer sampai ke konsumen akhir. Contoh:
broker, makelar, agen perantara, pengecer, eksportir, importir, dll.
Dalam agribisnis peternakan terdapat 4 subsistem yang
terdiri dari:
1. Subsistem
agribisnis hulu peternakan (uptream agribusiness) yaitu kegiatan ekonomi dalam
peternakan yang menghasilkan sapronak (industri pembibitan, pakan,
obat-obatan/vaksin, peralatan dan lain-lain).
2. Subsistem
usaha/budidaya peternakan (on-farm agribusiness) yaitu kegiatan ekonomi yang
menggunakan sapronak untuk menghasilkan komoditi peternakan primer.
3. Subsistem
agribisnis hilir peternakan (downstream agribusiness) yaitu kegiatan ekonomi
yang mengolah komoditas peternakan primer menjadi produk olahan (industri
pengolahan: daging, susu, telur, kulit, industri restoran dan makanan/food
service industries serta perdagangannya).
4. Subsistem
penunjang (supporting institution) yaitu kegiatan ekonomi yang menyediakan jasa
yang dibutuhkan oleh ke tiga subsistem lainnya seperti transportasi, penyuluhan
dan pendidikan, penelitian dan pengembangan, perbankan, kebijakan pemerintah
(anggaran pembangunan, harga input dan output, pemasaran dan perdagangan, dan
SDM).
Diantara subsistem agribisnis yang telah disebutkan, ada
subsistem yang mempunyai nilai tambah yang sangat kecil yaitu subsistem on farm. Maka dari itu masyarakat yang
berperan pada subsistem tersebut relatif mendapatkan pendapatan yang kecil
diiringi dengan kekurang layakan kondisi ekonomi. Sehingga kehidupan ekonominya
pun tidak mengalami perubahan yang sangat berarti (Saragih, 2001).
Maka dari itu selain keahlian beternak, agribisnis
peternakan juga memerlukan keahlian menejemen dan kewirausahaan agar dapat
mencapai tujuan dari dilakukannya usaha peternakan. Ketiganya harus dimiliki
secara seimbang dalam menjalankan suatu usaha peternakan (Rasyaf, 2000). Apabila
ketiga hal tersebut telah berjalan seimbang maka kehidupan ekonomi para pelaku
pada tiap subsistem bisa jadi akan membaik seperti yang diharapkan.
Daftar Pustaka
Rasyaf, M. 2000. Memasarkan
Hasil Peternakan. Penebar Swadaya. Bogor
Saragih,
Bungaran. 2001. Suara dari Bogor : Membangun Sistem Agribisnis. Yayasan USESE
bekerjasama dengan Sucofindo. Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar