Dalam perekonomian Indonesia, sektor pertanian
memiliki peranan yang sangat penting karena memberi kontribusi yang cukup besar
terhadap PDB Nasional, penciptaan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan rumah
tangga petani, dan merupakan produk swasembada pangan. Pembangunan pertanian
secara keseluruhan termasuk didalamnya pembangunan peternakan yang berperan
sebagai penyedia protein hewani, penyedia bahan baku industri, penyerapan
tenaga kerja dan investasi serta memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat desa
dengan cara meningkatkan output dan pendapatan (Usman, 2006). Pertumbuhan rata-rata
PDB subsektor peternakan antara tahun 2000-2006 setelah mengalami keterpurukan,
PDB subsetor peternakan mulai bangkit kembali yaitu sebesar 3,63 persen per
tahun. Pada periode yang sama, angka tersebut di atas laju pertumbuhan sektor
pertanian (2,66%/tahun), subsektor tanaman pangan (2,05%/tahun), subsektor
perkebunan (3,24%/ tahun), dan subsektor kehutanan (-0,07%/tahun) (BPS,
berbagai terbitan).
Menurut
Priyarsono et al. (2005), subsektor peternakan mempunyai koefisien pengganda
sebesar 7,23 untuk output bruto; 4,94 untuk tingkat keterkaitan; 2,14 untuk
nilai tambah dan 1,79 untuk pendapatan rumah tangga. Maknanya, tiap 1 milyar
rupiah diinjeksi ke subsektor ini akan meningkatkan output bruto bagi
perekonomian Indonesia sebesar 7,23 milyar rupiah, meningkat-kan pendapatan di
sektor lainnya sebesar 4,94 milyar rupiah, memberikan nilai tambah sebesar 2,14
milyar rupiah dan meningkatkan pendapatan rumah tangga sebesar 1,79 milyar
rupiah. Fakta itu mengindikasikan subsektor peternakan berpotensi dijadikan
sumber pertumbuhan baru pada sektor pertanian.
Subsektor
peternakan dapat tumbuh sangat cepat, karena telah berkembangnya
industri-industri peternakan saat ini. Dalam pengembangan sub sektor peternakan
sendiri perlu dan harus dipertimbangkan mengenai
apakah suatu komoditi diinginkan oleh masyarakat untuk dikembangkan sehingga
tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan wilayah secara
berkelanjutan dapat terwujud. Sedangkan dalam upaya memperkuat posisi dan
peranan subsektor peternakan, pemanfaatan potensi sumberdaya yang optimal perlu
diarahkan kepada peningkatan produksi dengan prioritas utama pada pasar ekspor.
Peranan peternakan dapat ditingkatkan melalui pengembangan dengan memanfaatkan
peluang dan sumberdaya yang dimiliki setiap daerah (Soehadji 1994), sedangkan
menurut Sugiyama et al 2003 yaitu ada beberapa daerah di Negara Jepang bahwa
sektor peternakan memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat
suatu daerah.
Sebenarnya
pengembangan subsektor peternakan sendiri hakekatnya merupakan rangkaian upaya
yang dilakukan untuk memfasilitasi, melayani, dan mendorong berkembangnya usaha
komoditi peternakan sehingga memiliki nilai tambah yang dapat memberi dampak
positif bagi setiap pelakunya, bahkan dapat juga memberi dampak terhadap
perekonomian nasional. Program pengembangannya dapat dilakukan pada wilayah
yang menjadi potensi ekonomi sektor peternakan berupa peningkatan kapasitas
tenaga penyuluh/pendampingan bagi peternak di setiap wilayah sehingga akan
meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas sektor peternakan.
Pangsa
PDB Beberapa Komoditas Peternakan terhadap PDB Subsektor Peternakan atas Dasar
Harga Konstan 1993 (%)
Sumber: Statistik peternakan berbagai tahun (diolah)
Untuk
melihat peranan subsektor peternakan dalam perekonomian adalah kontribusinya
dalam penyerapan tenaga kerja. Kontribusi tersebut dapat dilihat dari jumlah
rumah tangga peternak (RTP). Secara tidak langsung informasi ini menunjukkan
peranan usaha ternak sebagai sumber pendapatan rumah tangga.
RTP
menurut Jenis Ternak di Indonesia, 1983, 1993, dan 2003
Sumber: Ditjenak, 2005; dan BPS, 2005
BPS.
2003. Pendapatan Nasional Indonesia 1999-2002. Badan Pusat Statistik-Jakarta,
Indonesia.
BPS.
2004. Pendapatan Nasional Indonesia 2000-2003. Badan Pusat Statistik-Jakarta,
Indonesia.
BPS.
2005. Pendapatan Nasional Indonesia 2001-2004. Badan Pusat Statistik-Jakarta,
Indonesia.
BPS.
2005a. Sensus Pertanian 2003: Analisis Rumah Tangga Usaha Peternakan. Badan
Pusat Statistik-Jakarta, Indonesia.
BPS.
2006. Pendapatan Nasional Indonesia 2002-2005. Badan Pusat Statistik-Jakarta,
Indonesia.
Soehadji.
1994. Membangun Peternakan yang Tangguh. Orasi Ilmiah. Bandung (ID): Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Padjadjaran.
Sugiyama
M, Iddamalgoda A, Oguri K, Kamiya N. 2003. Development of Livestock Sector in
Asia: An Analysis of Present Situation of Livestock Sector and Its Importance
for Future Development. Development of Livestock Sector in Asia. 3(5):1-9.
Usman
S. 2006. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta (ID): Pustaka
Pelajar.
Yulia.
2018. Rancangan Strategic Architecture Subsektor Peternakan Dalam Pembangunan
Ekonomi Kabupaten Agam Sumatera Barat. Jurnal Aplikasi Manajemen, Ekonomi dan
Bisnis Vol. 2, No. 2: 70-77

Tidak ada komentar:
Posting Komentar