Nama : Vaundrawati Dheananda Salsadyra
NIM : 180321100076
Shift : B1
TUGAS
PRKTIKUM
PENGANTAR
AGRIBISNIS
KURANG
EFEKTIFNYA LEMBAGA KEUANGAN DALAM BIDANG PERTANIAN DI INDONESIA

Disusun
Oleh:
Irma Ratih
Anjasmara
|
180321100058
|
Waqiatul Mukarromah
|
180321100062
|
Moh. Ifan Aldy P
|
180321100071
|
Vaundrawati
Dheananda S
|
180321100076
|
Maziyatul Lailiyyah
|
180321100084
|
Indania Fitri
Chairindan
|
180321100087
|
Cellin Fahma Dyah
|
180321100106
|
PROGRAM
STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
TRUNOJOYO MADURA
BANGKALAN
INTI
MASALAH
SEMARANG,
KOMPAS.com – Meski memiliki peran yang sangat vital, namun pangsa sektor
pertanian terhadap perekonomian nasional terus mengalami penurunan. Selain itu,
serapan tenaga kerja sektor tersebut juga terus merosot. Bank Indonesia (BI) menyatakan,
setidaknya ada tiga permasalahan utama yang dialami sektor pertanian nasional
saat ini. Menurut Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan
Moneter BI Dody Budi Waluyo, permasalahan tersebut antara lain adalah produksi,
distribusi, dan keterjangkauan harga. “Masalah produksi terkait kapasitas,
produktivitas petani, insentif untuk petani, dan data yang tidak akurat
sehingga menimbulkan masalah dalam kebijakan impor,” ujar Dody dalam acara
media briefing Rapat Koordinasi BI dengan Pemerintah Pusat dan Daerah di Crowne
Plaza Hotel Semarang, Kamis (30/3/2017). Sementara itu, permasalahan dalam
distribusi antara lain panjangnya tata niaga dan adanya pelaku-pelaku yang
dominan di pasar. Di samping itu, pembentukan harga juga dikuasai oleh beberapa
pelaku pasar saja. Dody menuturkan, permasalahan pun terjadi dalam hal
keterjangkauan harga. Bank sentral memantau, struktur pasar produk pertanian
dikuasai oleh beberapa pelaku utama saja. Permasalahan ini diakui oleh Dody
perlu segera ditangani. Oleh sebab itu, pemerintah perlu melakukan koordinasi
dengan pihak-pihak terkait dalam pengambilan kebijakan. Ketiga permasalahan
tersebut juga perlu ditangani agar ketahanan pangan nasional dapat terwujud.
Pasalnya, apabila ketahanan pangan tidak berjalan baik, kerentanan pangan tidak
hanya mengganggu perekonomian, namun juga kesejahteraan masyarakat. Data bank
sentral menunjukkan, dalam kurun waktu 1990 hingga 2016. pangsa pasar sektor
pertanian menurun drastis dari 22,09 persen terhadap produk domestik bruto
(PDB) menjadi 13,45 persen. Sementara itu, serapan tenaga kerja sektor
pertanian juga menurun dari 55,3 persen menjadi 31,9 persen.
RIVIEW
JURNAL
1. Pendahuluan
Pertanian adalah sektor yang
penting terhadap kelangsungan kehidupanmasyarakat Indonesia serta masih
berperan dalam perkembangan
perekonomian. Kegiatan pertanian meliputi bidang usaha mencakup tanaman,
peternakan, perikanan, serta kegiatan didalamnya (Fatah, 2006). Kategori
pertanian Indonesia masih bersifat gurem yang identik dengan kemiskinan. Dinamika kehidupan pertanian pedesaan, misalnya gagal
panen, serangan hama dan penyakit, iklim yang tidak dapat diprediksi, harga jual anjlok, sulit mendapatkan pupuk. Segala permasalahan tersebut menjadikan mata rantai permasalahan baru yang akan muncul. Termasuk dalam hal permodalan, Petani akan merasa kesulitan memulai musim tanam yang akan datang jika hasil panen musim yang lalu tidak mencukupi. Alternatif solusi yang dapat dilakukan oleh petani adalah melakukan akses modal usahatani ke lembaga keuangan. Soetriono (2006), menambahkan bahwa modal adalah factor internal yang penting dalam pelaksanaan usahatani yang dijalankan petani.
perekonomian. Kegiatan pertanian meliputi bidang usaha mencakup tanaman,
peternakan, perikanan, serta kegiatan didalamnya (Fatah, 2006). Kategori
pertanian Indonesia masih bersifat gurem yang identik dengan kemiskinan. Dinamika kehidupan pertanian pedesaan, misalnya gagal
panen, serangan hama dan penyakit, iklim yang tidak dapat diprediksi, harga jual anjlok, sulit mendapatkan pupuk. Segala permasalahan tersebut menjadikan mata rantai permasalahan baru yang akan muncul. Termasuk dalam hal permodalan, Petani akan merasa kesulitan memulai musim tanam yang akan datang jika hasil panen musim yang lalu tidak mencukupi. Alternatif solusi yang dapat dilakukan oleh petani adalah melakukan akses modal usahatani ke lembaga keuangan. Soetriono (2006), menambahkan bahwa modal adalah factor internal yang penting dalam pelaksanaan usahatani yang dijalankan petani.
Selain
permasalahan diatas, pertanian juga bermasalah pada modal pertanian dan pelaku
usaha tani. Pemerintah bekerja sama dengan pihak perbankan telah meluncurkan
beberapa kredit progam/bantuan modal bagi petani dan pelaku usaha pertanian
melalui beberapa bentuk skim seperti dana bergulir, penguatan modal, subsidi
bunga, maupun yang mengarah komersil. Seiring dengan terbatasnya kemampuan
finansial pemerintah dalam mendanai kredit pertanian, perlu dilakukan upaya
optimalisasi kebijakan kredit progam agar memberikan manfaat yang lebih besar
bagi pembangunan pertanian. Penyaluran kredit diberikan kepada nasabah secara
selektif, karena lembaga keuangan ini juga tidak dapat mengalami kerugian jika
kredit yang disalurkan mengalami kemacetan. Namun, efektivitas kebijakan kredit
di Indonesia masih belum optimal terbukti dengan masih lemahnya kemampuan
petani dalam permodalan, walaupun beberapa kredit progam sudah pernah
diimplementasikan. emberian progam kredit dengan perantara pihak bank bertujuan
untuk menambahkan modal para petani agar dapat memperluas usaha mereka. Namun
yang terjadi para petani kurang mengetahui dengan adanya progam tersebut karena
kurangnya informasi.
2. Metode Penelitian
Dalam mereview jurnal harus
memperhatikan yang menjadi pokok permasalahan yang diangkat, hasil-hasil
analisis penulis dan peneliti jurnal terkait, sehingga dapat menyimpulkan
maksud yang terkandung dalam jurnal khususnya dalam menjawab berbagai
permasalahan. Oleh karna itu, pembahasan bagaimana metedelogi dalam jurnal
menjadi sebuah bagian yang penting, mengingat mereview merupakan metode yang
digunakan untuk memberikan gambaran bagaimana penulis jurnal menyimpulkan hasil
jurnal dan kelebihan serta keterbarasan metode dalam jurnal.
Dalam melakukan penelitiannya
pada jurnal 1 yang berjudul “Peran Kredit Perbankan Pada Sektor Pertanian Di
Provinsi Sulawesi Utara” metode
pengumpulan datanya meggunakan metode pengmpulan data primer dan data sekunder
dimana data primer merupakan penelitian yang dilakukan di lapangan untuk
memperoleh data yan berupa kejadian-kejadian di lapangan atau pendapat subjek
lapangan yang berhubungan dengan pemberi kredit pada sektor pertanian,
sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber yang tidak
langsung memberikan data kepada peneliti, diperoleh dengan cara dokumentasi
tertulis mengenai hal-hal atau variable yang diperlukan dari Bank Indonesia
Perwakilan Sulawesi Utara. Metode pengumpulan dta hanya dilakukan pada Bank
Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara yang memiliki data kredit pembiayaan sektor
pertanian di Provinsi Sulawesi Utara. Untuk metode analisisnya menggunakan
metode analisis data deskriptif kuantitatif dan kualitatif yaitu mengenai
deskripsi kredit perbankan pada sektor pertanian di Sulawesi Utara. Analisis
data yang diambil yaitu laporan jumlah kredit Bank Indonesia untuk sektor
pertanian dari tahun 2011 hingga tahun 2016. Analisis data deskriptif ini
bertujuan untuk mengetahui pembiayaan perbankan pada sektor pertanian di
Provinsi Sulawesi Utara yang akan disajikan dalam bentuk Tabel dan Grafik serta
untuk melihat perkembangan penyaluran kredit.
Sedangkan pada jurnal 2 yang berjudul “Aksesibilitas Petani Terhadap Lembaga
Keuangan (Studi Kasus Pada
Petani Di Desa Sidodadi Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro)” metode penelitian yang diguankan ada metode
pemilihan lokasi penelitian dimana peneliti memilih lokasi penelitian di Desa
Sidodadi Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro yang dipilih secara sengaja
dengan dasar mayoritas wilayahnya merupakan lahan pertanian (setengah luas
total). Metode penentuan respondennya dengan metode stratified random sampling yang didasarkan atas luas kepemilikan lahan.
Untuk metode analisis data dengan mengetahui aksebilitas serta gambaran pola
perilaku petani dalam mengakses modal ke lembaga keuangan maka data yang
terhimpun dianalisis secara kualitatif dengan metode interaktif.
Pada jurnal 3 yangberjudul “Risk and Equity in Agricultural Cooperatives” menggunakan metode
analisis data, metode variabel, metode variable dependent alternative, dan
metode pooling (pendapat umum).
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Hasil
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pda jurnal 1 yang berjudul
“Peran Kredit Perbankan Pada Sektor Pertanian Di Provinsi Sulawesi Utara” dapat diperoleh hasil mengenai permasalahan
kredit dan cara mengatasi peraslahan tersebut yaitu sebagai berikut: kredit
bermasalah adalah kredit yang tidak lancar atau debiturnya tidak memenuhi
persyaratan yang diperjanjikan. (Panekenan,
Rumagit, Grace, A, & Pangemanan, Paulus, 2017) Misal persyaratan pembayaran bunga,
pengambilan pokok pinjaman bunga, peningkatan margin deposit, pengikatan dan
peningkatan agunan, dan sebagainya. Adapun kelompok kolektabilitas yang
merupakan kredit bermasalah atau NPL (Non Performing Loan) yaitu:
1)
Kredit
kurang lancar (Substandart) dengan kriteria:
a.
Terdapat
tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 90 hari;
b.
sering
terjadi cerukan
c.
frekuensi
mutasi rekening relative
d.
terjadi
pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari
e.
terdapat
indikasi masalah keuangan yang dihadapi depitur
f.
dokumentasi
pinjaman yang lemah
2)
Kredit
diragukan (doubtful) dengan kriteria:
a.
Terdapat
tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui batas 180 hari
b.
Terjadi
cerukan yang bersifat permanen
c.
Terjadi
wanprestasi lebih dari waktu 180 hari
d.
Terjadi
kapitalisasi bunga
3)
Kredit
macet (loss) dengan kriteria:
a.
Terdapat
tunggakan angsuan pokok dan atau bunga yang telah melampaui batas 270 hari
b.
Kerugian
operasional ditutup dengan pinjaman baru
c.
Dari
segi hokum maupun kondisi pasar jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar.
Untuk menyelesaikan masalah
kredit macet ini, perbankan mengupayakan penyelesaian damai dengan opsi-opsi
pelunasan dengan angsuran, penjualan agunan secara sukarela, pelunasan dengan
keringanan bunga dan pinalti serta penyelesaian dengan masuknya investor baru.
Pencegah kredit bermasalah dengan prinsip kehati-hatian, meliputi permohonan,
analisis, keputusan, perjanjian, pengikat jaminan, dropping kredit, pengawasan,
pelunasan dan atau perpanjangan. Penangan kredit bermasalah yaitu penyelesaian
kredit bermasalah secara administrasi perkreditan.
Jurnal 2 dengan judul “Aksesibilitas Petani Terhadap Lembaga
Keuangan (Studi Kasus Pada
Petani Di Desa Sidodadi Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro)” dapat diperoleh presepsi positif petani
terhadap lembaga keuangan. Persepsi positif terhadap keberadaan lembaga
keuangan: memang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan dari kredit yang akan
berjalan selanjutnya. Persepsi yang dihasilkan petani juga akan mempengaruhi
sikap lembaga keuangan dalam pemberian kredit, terutama dalam aspek trust
lembaga keuangan terhadap petani. Ishak (2012), menjelaskan bahwa jika persepsi
yang tercipta baik, maka lembaga keuangan mikro agribisnis akan dapat lebih
berperan dalam kemajuan usahatani yang dijalankan(Supanggih
& Widodo, 2013), pada kasus ini terjadi di daerah Bengkulu.
Dibawah ini adalah persepsi yang digambarkan responden mengenai lembaga
keuangan yang ada: a). Petani menganggap Lembaga keuangan formal adalah sumber
pembiayaan yang dapat meringankan permasalahan dari segi modal. b). Petani
menilai bunga yang diberikan pihak bank adalah rendah. c). Proses tidak sesulit
dari yang diperkirakan. d). Pihak bank akan menaruh kepercayaan kepada petani
jika memang memiliki riwayat kredit yang bagus.
Pada jurnal 3 yang berjudul “Risk and Equity in Agricultural Cooperatives” diperoleh bahwa bank
pemberi pinjaman. dan manajer keuangan melihat proporsi ekuitas dalam neraca
untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan suatu perusahaa dan solvabilitas,
meskipun ada kemungkinan semua biaya pendirian usaha tani dibiayai oleh ekuiats
tapi hampir tidak mungkin untuk membiayai pendirian usaha dengan modal
pinjaman. Modal ekuitas bereperan penting dalam strategi investasi dan
pertumbuhan perusahaan milik investor. Dengan sedikit ekuitas, perusahaan
menghadapi kerugian besar sebagai akibat dari fluktuasi kinerja laba, mungkin
tidak dapat memenuhi kewajibannya dan mungkin akhirnya dipaksa ke dalam
kebangkrutan dan pembubaran. Jika suatu perusahaan memegang jumlah ekuitas yang
memadai, namun, kerugian dapat diserap oleh eqUity modal dan perusahaan dapat terus
beroperasi. meskipun pemiliknya akan yang jauh lebih miskin. Demikian.
perusahaan dihadapkan dengan variabilitas pendapatan yang tinggi, atau risiko
tinggi, diharapkan untuk mempertahankan proporsi eqUity yang lebih tinggi dalam
pesanan untuk menyerap downshing yang ekstrim dalam kinerja(Parliament
& Lerman, n.d.).
4. Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan
bahwa pangsa pasar pertanian di Indonesia terus menurun, permasalahan utama yang dialami sektor pertanian
nasional saat ini adalah produksi, distribusi, dan keterjangkauan harga. Dalam
hal ini Lembaga keuangan mengambil andil
untuk mengatasinya. Namun banyak kendala yakni terbatasnya kemampuan finansial pemerintah dalam mendanai kredit
pertanian dan kurangnya petani mengetahui program-program Lembaga keuangan.
5. Rekomendasi
Saran dari kelompok kami sebaiknya pemerintah perlu melakukan
koordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam pengambilan. Dan juga Lembaga
keuangan harus lebih banyak mengadakan sosialisasi kepada masyarakat tentang
pembiayaan sektor pertanian dan perkembangan pada Lembaga keuangan terlebih pada kantor-kantor Lembaga keuangan
yang ada di pelosok- pelosok daerah. Dan perlu adanya peningkatan kapasitas
kredit dapat dilakukan dengan pemberdayaan dan penguatan kelompok tani.
DAFTAR PUSTAKA
Panekenan,
D., Rumagit, Grace, A, J., & Pangemanan, Paulus, A. (2017). Peran Kredit
Perbankan Pada Sektor Pertanian Di Provinsi Sulawesi Utara. Agri-SosioEkonomi
Unsrat, 13(1 A), 183–194.
Parliament,
C., & Lerman, Z. (n.d.). Risk and Equity in Agricultural Cooperatives.
Supanggih,
D., & Widodo, S. (2013). Aksesibitas Petani terhadap Lembaga Keuangan
(Studi Kasus Pada Petani di Desa Sidodadi Kecamatan Sukosewu Kabupaten
Bojonegoro). Jurnal Agriekonomika, 2(2), 163–173.
BalasHapusHalo semuanya, ini adalah Cara mendapatkan pinjaman darurat sebesar € 30.000 dalam 24 jam untuk memulai bisnis saya sendiri dari layanan online pinjaman internasional, hubungi email perusahaan untuk pemrosesan pinjaman Anda jika Anda tertarik:
email: atlasloan83@gmail.com
WhatsApp: +1 (443) -345-9339