Terkait dengan masyarakat yang masih bergantung pada sektor pertanian bukan hanya terjadi pada Indonesia. Kurang lebih sebesra 45% masyarakat di Asia Tenggara masih tergantung pada sektor pertanian. Dimana sektor tersebut bagaikan sumber kehidupan mereka karena telah menyediakan kebutuhan pangannya. Salah satu yang menjadi sumber pangan pokok adalah beras. Lebih dari 22% dari konsumsi beras masyarakat Asia dikonsumsi oleh masyarakat Asia Tenggara. Semua negara di asia Tenggara akan mengupayakan pemenuhan kebutuhan beras bagi penduduknya, namun tidak semua negara dapat melakukan sebab terdapat faktor baik sumber daya maupun agroklimat yang mempengaruhi proses produksi beras. Kondisi tersebut menjadikan negara-negara di Asia Tenggara sebagai eksportir sekaligus importir beras. Salah satu jenis beras yang banyak diminati pasar impor adalah beras merah organik. sebagai manjer, untuk menerjunkan produk beras merah organik ke dalam pasar impor maka diperlukan strategi pemasaran. Adapun strategi y=pemasaran yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
A. STP Beras Merah Organik
Segmenting
Menurut Fandy dan Gregorius (2012) segmenting merupakah sebuah kegiatan pengelompokan pasar dari kelompok yang heterogen menjadi kelompok homogen. Segmenting ini dapat dilakukan melalui riset kemudian mmenggunakan cluster analysis dimana dari seluruh responden akan dibagi menjadi beberapa culster berdasarkan variabel yang digunakan dalam penelitian (Antara dan rantau, 2017). Pada produk beras merah organik ini diasumsikan bahwa perusahaan melakukan riset kepada konsumen dan akan membagi 3 cluster berdasarkan variabel penelitian yang digunakan. Hasil risetnya menunjukkan bahwa segmen dari beras merah organik adalah sebagai berikut:
1. Cluster 1
Dari hasil penelitian cluster 1 ini sebesar 50% dimana konsumen didominasi oleh jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan rentang pendapatan 3.000.000-3.999.999, usia antara 35-49 tahun dengan tingkat pendidikan sarjana baik S1 maupun D4, dan berprofesi sebagai pegawai swasta yang berasal dai penduduk lokal. Psikografis konsumennya memiliki karakteristik yang aktif. Perilaku konsumsi terhadap tingkat konsumsi cukup sering, kesiapan terhadap pembelian cukup tinggi, dan sikapnya terhadap manfaat produk yang positif.
2. Cluster 2
Cluster 2 sebesar 28% dimana konsumen didominasi oleh jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan rentang pendapatan 4.000.000-4.999.999, usia antara 20-34 tahun dengan tingkat pendidikan sarjana SMA, dan berprofesi sebagai pegawai swasta yang berasal dai penduduk lokal dan internasioanl. Psikografis konsumennya memiliki karakteristik yang aktif dan modern. Perilaku konsumsi terhadap tingkat konsumsi cukup sering, kesiapan terhadap pembelian cukup tinggi dan sikapnya terhadap manfaat produk yang positif.
3. Cluster 3
Cluster 1 sebesar 22% dimana konsumen didominasi oleh jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan rentang pendapatan 5.000.000-6.000.000, usia antara 50-64 tahun dengan tingkat pendidikan sarjana sarjana baik S1 maupun D4, dan berprofesi sebagai pegawai swasta yang berasal dai penduduk internasioanl. Psikografis konsumennya memiliki karakteristik yang aktif dan modern. Perilaku konsumsi terhadap tingkat konsumsi sangat sering, kesiapan terhadap pembelian cukup tinggi dan sikapnya terhadap manfaat produk yang sangat positif.
Taregetting
Menurut Keegan dan Green (2008) taregtting merupakan proses pengevaluasian segmentasi dan pemfokusan strategi pemasaran pada suatu kelompok konsumen yang potensial untuk merespon. Targetting yang sesuai dengan sumberdaya dari perusahaan adalah segmen3 meskipun ukurannya hanya 22% namun segmen ini cukup potenisal. Dilihat dari tingkat konsumsi segmen3 yang sering dimana konsumen akan loyak terhadap produk yang akan ditawarkan. Kesiapan pembeli yang positif dimana konsumen memahami mengenai produk yang ditawarkan. Ypsikografis konsumen yang tergolong aktif, modern, dan mapan sehingga berkemungkinana untuk melakukan pengembangan diri secara optimal sekaligus berpengaruhi terhadap pendapatan yang akan diperoleh di masa datang maupun kemampuan mempengaruhi orang lain dalam mengkonsumsi sekaligus membeli beras merah organik yang ditawarkan oleh perusahaan.
Positioning
Keunggulan yang dimiliki oleh produk beras merah organik adalah dari aspek kesehatan dan kemasan. Dari aspek kesehatan beras merah organik yang diproduksi oleh perusahaan kami tidak menggunakan bahan kimia apapun yang bisa berdampak pada kesehatan tubuh manusia. Dari aspek kemasan beras merah organik yang diproduksi oleh perusahaan kami menggunakan kemasan kedap udara (vacum).
B. Bauran Pemasaran Beras Merah Organik
Product
Produk yang ditawarkan perusahaan kami adalah beras merah organik yang dikemas dlam kemasan 1 kg dengan teknologi kedap udara (vacum) yang bertujuan untuk menjaga kualitas produk supaya tidak mudah untuk ditumbuhi bakteri di dalamnya sehingga umur simpan akan lebih lama dengan kondisi produk yang tetap baik. Selain itu produk yang ditawarkan memiliki keunggulan untuk kesehatan antara lain:
1. Sebagai sumber seratselenium yaitu zat yang dapat mereduksi resiko kanker usus.
2. Menurunkan kadar kolestrol jahat.
3. Menghambat radikal bebas pemicu kanker yang disebabkan oleh radikal bebas.
4. Penghasil vitamin B khususnya thiamin yang berguna untuk menyampaikan pesan dari otak ke tulang saraf belakang.
Price
Mengingat segmen dari produk kami adlaah masyarakat kalangan atas yang peduli akan kesehan dan tidak peduli dengan masalah biaya yang harus dikeluarkan untuk menjamin kesehatan merek maka kami harga produk yang kami tawarkan untuk beras merah organik ukuran kemasan 1 kg adalah Rp. 45.000,-. Harga tersebut mewakili kualitas, manfaat, dan kemasan produk serta pelayanan perusahaan yang baik. Ditargetkan dalam bulan Januari omset perusahaan mencapai Rp. 1.000.000.000. Maka perusahaan menargetkan penjualan produk per hari sebanyak 717 kg.
Place
Lokasi perusahaan berada di pedesaan dengan pra sarana yang memadai. Sehingga perusahaan dekat dengan supplier bahan baku yaitu petani yang ada di desa dan didukung oleh pra sarana menuju kota yang memadai seperti jalan beraspal, jembatan yang kuat, dan kedekatan dengan pelabuhan barang. Produk yang ditawarkan akan dipasarkan di tempat dimana orang-orang/segmen pasar perusahaan biasanya berada seperti supermarket.
Promotion
Promosi yang dilakukan perusahaan adalah melalui media sosial , mendatangi perusahaan penjual beras merah organik yang tidak mampu memproduksi sendiri produk ini, dan menyasar pasar ekspor.
C. Media Promosi di Media Sosial
D. Analisis Beras Merah Organik di Pasar ASEAN
Indonesia menjadi salah satu negara pngimpor baras di wilayah Asia Tenggara. Namun, beras yang diipor adalah beras putih karena mayoritas masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras putih sebagai makanan pokoknya. Di Indonessia sendiri sangat berpotensi untuk dijadikan negara produsen beras merah karena memiliki sumberdaya dan kondisi agroklimatologi yang mendukung dimana kondisi tersebut tidak dimiliki oleh kebanyakan negara di Asia Tenggara lainnya. Dilihat kembali bahwa masyarakat Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok dan kepedulian akan kesehatan yang semakin meningkat. Kondisi di atas dapat menjadi peluang beras merah organik di Indonesia untuk di menembus pasar ekspor khususnya pasar ASEAN.
Referensi:
https://republika.co.id/berita/pvndio453/beras-organik-indonesia-diminati-pasar-ekspor
https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78546
https://bali.bisnis.com/read/20180731/538/822542/produsen-beras-merah-di-bali-minati-pasar-singapura
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4249167/ri-ekspor-beras-ini-negara-tujuannya
DEWI, N. P. A. Y., ANTARA, M., & RANTAU, I. K. (2017). Strategi Segmenting, Targeting dan Positioning Pemasaran Beras Merah Organik Jatiluwih Bali di Provinsi Bali. Jurnal Agribisnis dan Agrowisata (Journal of Agribusiness and Agritourism), 596-605.
Ismail, N. W., Smith, P., dan Kugler, M. 2009. The Effect of ASEAN Economic Integration on Foreign Direct Investment. Journal of Economic Integration, Vol. 24, No. 3.
Keegan, W.J. and Green, M.S. 2008. Global Marketing. London Pearson Education. Kotler, P. dan Armstrong, G. 2001. Prinsip Prinsip Pemasaran. Edisi ke delapan. Damos Sihimbing. Erlangga. Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar