Senin, 19 November 2018

Komoditas Unggulan

Nama : Vaundrawati Dheananda Salsadyra
NIM : 180321100076
Shift : B1


PRAKTIKUM
APLIKASI KOMPUTER
KEDELAI

Disusun oleh:
Nama              : Vaundrawati D.S
NIM                  : 180321100076
Kelas               : B

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA








BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Hasil gambar untuk gambar kedelai
Usaha-usaha pengembangan varietas-varietas kedelai unggul telah dilakukan. Adanya varietas-varietas yang berbeda menyebabkan timbulnya keragaman sifat fisik dan kimia kedelai yang dapat mempengaruhi produk olahannya. Perbedaan sifat produk ini kemungkinan dapat disebabkan oleh berbedanya fraksi protein pada berbagai jenis kedelai. Pelaksanaan penelitian ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia serta fraksi globulin 7S dan 11S pada sepuluh varietas kedelai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa varietas kedelai yang diamati mempunyai sifat kimia yang lebih tinggi dibanding kedelai impor demikian pula dengan kadar fraksi 11S-nya. Komposisi proksimat dari kesepuluh varietas berdasarkan berat kering adalah lemak 18,539- 22,57%, protein 30,32-35,35%, abu 5,53-5,96% dan karbohidrat 36,83-43,93%. Sedangkan kedelai impor dari USA mempunyai kadar lemak, protein, abu dan karbohidrat secara berurutan sebesar 22,97%, 31,06%, 5,62%, dan 40,35%.
Kedelai yang diamati mempunyai kadar globulin 7S berkisar antara 4, 48-14, 05%, dan kadar globulin 11S berkisar antara 7,32 - 56,82%. Sedangkan kedelai impor mempunyai kadar globulin 7S dan 11S secara berurutan sebesar 10,44% dan 53,45%. Varietas Lompobatang dan Davros mempunyai kadar globulin 11S yang lebih tinggi disbanding kedelai impor. (Yuwono, Hayati, & Wulan, 1996)
Varietas berpengaruh terhadap tinggi tanaman umur 15 dan 30 HST. Tanaman kedelai lebih tinggi diperoleh pada varietas Grobogan dan Anjasmoro. Jarak tanam hanya berpengaruh nyata pada tinggi tanaman umur 45 HST, tanaman tertinggi diperoleh pada penggunaan jarak tanam 20 cm x30 cm. Terdapat interaksi yang nyata antara varietas dan jarak tanam terhadap jumlah polong per tanaman, jumlah polong bernas per tanaman dan berat biji per tanaman. Hasil terbaik diperoleh pada varietas Anjasmoro dengan jarak tanam 40 cm x 40 cm. (Marliah, Hidayat, & Husna, 2012)
Produksi kedelai Indonesia hanya mampu memenuhi 38% kebutuhan untuk konsumsi, sedang sisanya harus diimpor. Penggunaan varietas unggul berpotensi hasil tinggi (> 2 t/ha) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai. Selama 15 tahun terakhir telah dilepas 37 varietas unggul kedelai, namun adopsinya di tingkat petani masih lambat. Selain itu, pengrajin tempe dan tahu cenderung memilih kedelai impor karena terjamin pasokan bahan bakunya, lebih bersih, dan lebih besar ukuran bijinya dibanding kedelai lokal. Varietas unggul baru seperti Burangrang, Bromo, dan Argomulyo dapat menghasilkan tempe yang kualitasnya sama dengan kedelai impor, bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi. Demikian pula untuk tahu, varietas-varietas unggul baru yang kadar protein bijinya > 40% basis kering (bk), menghasilkan bobot dan tekstur yang lebih baik dibanding kedelai impor yang kadar proteinnya 35−37% bk. Kadar protein biji berkorelasi positif dengan bobot dan tekstur tahu, terutama dipengaruhi oleh fraksi globulin. Biji kedelai varietas Lokal Ponorogo, dan varietas unggul Wilis, Bromo, Argomulyo serta Anjasmoro yang berwarna kuning dengan kadar protein tinggi (37−43% bk) dan intensitas langu rendah, sesuai untuk bahan baku susu kedelai. (Ginting, Antarlina, & Widowati, 2009)
faktor-faktor tanah yang berpengaruh terhadap ketersediaan K, memilih metode ekstraksi, menentukan batas kritis, dan menghitung kebutuhan pupuk K untuk kedelai. Percobaan mengunakan rancangan acak kelompok, lima tingkat takaran K, sembilan ulangan, dan menggunakan kedelai sebagai tanaman indikator. Takaran kalium yang digunakan terdiri atas: 0, 20, 40, 80, dan 160 kg K/ha dari pupuk KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa C- organik dan kapasitas tukar kation tanah merupakan faktor tanah utama yang berpengaruh terhadap ketersediaan K di tanah-tanah Ultisol. Pemupukan K nyata meningkatkan hasil biji kering kedelai di lokasi Tanjung Gusti dimana hasil tanaman meningkat dari 0.81 menjadi 1.99 t/ha akibat pemberian 80 kg K/ha atau terjadi peningkatan sekitar 146%. Pengekstrak HCl 25% ditemukan sebagai metode ekstraksi K yang sesuai untuk menduga kadar K tanah Ultisol dalam kaitannya dengan penghitungan kebutuhan pupuk K untuk kedelai. Kelas ketersediaan hara kalium tanah Ultisol untuk kedelai berdasarkan pengekstrak HCl 25% adalah rendah (< 340), sedang (340-1150) dan tinggi (>1150 ppm K2O). Kebutuhan pupuk untuk mencapai hasil maksimum adalah 210, 190, dan 150 kg KCl/ha, sedangkan untuk mencapai hasil optimum hanya 85, 2, dan 0 kg KCl/ha masing-masing untuk kelas K tanah rendah, sedang, dan tinggi. (Ultisol, 2006)

1.2 Rumusan Masalah

1.    Apa karakterisasi fisik, kimia dan fraksi protein 7s dan 11s sepuluh varietas kedelai produksi indonesia?
2.    Apa pengaruh varietas dan jarak tanaman terhadap pertumbuhan kedelai?
3.    Apa varietas unggul kedelai untuk bahan baku industri pangan?
4.    Apa kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol?

1.3 Tujuan  

1.    Untuk menegetahui karakteristik fisik, kimia dan fraksi  protein 7s dan 11 s sepuluh varietas kedelai produksi Indonesia.
2.    Untuk mengetahui pengaruh varietas dan jarak tanaman terhadap pertumbuhan kedelai.
3.    Untuk menegtahui varietas unguulan kedelai untuk bahan bakuindustri pangan.
4.    Untuk mengetahui kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Karakterisasi Fisik, Kimia dan Fraksi Protein 7s dan 11s Sepuluh Varietas Kedelai Produksi Indonesia

2.1.1Sifat Fisik dan Kimia pada Varietas Kedelai Indonesia

Berat 100 biji varietas kedelai yang diamati berkisar antara 6,35 g hingga 10,767 g, sedangkan kedelai impor memiliki berat 15,30 g. Berat 100 biji dapat digunakan sebagai ukuran besar biji. Seluruh kedelai Indonesia memiliki berat yang lebih rendah dari kedelai impor.
Panjang biji kedelai Indonesia berkisar antara 5,20-7,28 mm, lebar 4,67-5,78 mm dan rasio panjang lebar berkisar 1,11-1,34. Berdasarkan rasio panjang/lebar, maka bentuk biji kedelai semua varietas yang diuji dapat digolongkan agak bulat sampai lonjong. Apabila dibandingkan dengan panjang kedelai impor (7,150 mm), varietas Pangrango merupakan satu-satunya varietas yang mempunyai panjang biji yang lebih besar, sedangkan untuk lebar biji, seluruh varietas kedelai Indonesia memiliki lebar yang lebih kecil daripada kedelai impor (6,270 mm).   (Yuwono et al., 1996)
Varieas
Panjang (mm)
Lebar (mm)
Rasio panjang/lebar
Berat 100 biji (g)
Malabar
6,730
5,780
1,16
10,767
Slamet
6,970
5,200
1,34
8,517
Lumajang bewok
6, 230
5,500
1,13
8,467
Lompo batang
6, 570
5,300
1,24
9,783
Petek
5,200
4,670
1,11
6,350
Wilis 2000
6,920
5,450
1,27
10,250
Pangrango
7,280
5,600
1,30
10,483
Singgalang
6,620
5,670
1,17
8,450
Sindoro
5,750
4,760
1,21
6,550
Davros
5,730
5,070
1,13
7,303
Impor
7,150
6, 207
1,15
15,300
Tabel  1Panjang, lebar, dan rasio panjang/lebar kedelai Indonesia dan kedelai impor
Tabel  2 Warna dan pH Biji Kedelai Indonesia dan Kedelai Impor
Tabel  3 Sifat Kimia dari 10 Varietas Kedelai Indonesia dan Kedelai Impor (berat kering)

2.1.2 Kadar Globulin 7S dan 11S

Berdasarkan hasil  pengamatan, dapat diketahui kadar fraksi protein globulin 7S, globulin 11S, dan rasio 7S/11Sdari sepuluh varietas kedelai Indonesia serta satu kedelai impor AS. Komposisi fraksi protein globulin 7S , globulin 11S, dan rasio 7S/11S tersebut dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel  4 Komposisi Fraksi Protein Globulin 7S dan 11S (berat kering)

2.2 Pengaruh Varietas Dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Kedelai

Uji F pada analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara varietas dengan jarak tanam terhadap jumlah polong per tanaman, jumlah polong bernas per tanaman dan berat biji per tanaman. Rata- rata jumlah polong per tanaman jumlah polong bernas per tanaman dan berat biji per tanaman akibat berbagai varietas dan jarak tanam terlihat pada Tabel 1, 2 dan 3. Tabel 1 memperlihatkan bahwa jumlah polong per tanaman pada varietas Anjasmoro meningkat secara nyata dengan penggunaan jarak tanam yang diperlebar, yaitu dari jarak tanam 20 cm x 30 cm ke jarak tanam 20 cm x 40 cm dan 40 cm x 40 cm. Untuk varietas Grobogan, peningkatan jumlah polong per tanaman nyata hanya diperoleh pada penggunaan jarak tanam 20 cm x 40 cm yang tidak berbeda nyata dengan penggunaan jarak tanam 40 cmx 40 cm. (Marliah et al., 2012)

2.3 Varietas Unggul Kedelai untuk Bahan Baku Industri Pangan

2.3.1 Varietas Kedelai Untuk Tempe

Tempe merupakan produk olahan kedelai hasil fermentasi jamur Rhizopus sp. yang bernilai gizi tinggi dan disukai cita rasanya. Cita rasa langu yang secara alami terdapat pada biji kedelai dapat dieliminasi selama proses pengolahan tempe. Sejauh ini, bahan baku tempe sebagian besar masih menggunakan kedelai impor yang diang- gap memiliki kualitas fisik lebih baik dibanding kedelai lokal. Beberapa varietas unggul baru kedelai memiliki warna dan ukuran biji yang relatif sama dengan kedelai impor. Menurut Susanto dan Saneto (1994), ukuran biji kedelai ter- golong kecil bila memiliki bobot 8−10 g/ 100 biji, sedang jika bobotnya 10−13 g/ 100 biji, dan besar bila > 13 g/100 biji. Kadar protein kedelai ini juga lebih tinggi dibanding kedelai impor, yang kemung- kinan mengalami penurunan karena lamanya penyimpanan dari saat panen sampai dipasarkan di Indonesia.

2.3.2 Varietas Kedelai Untuk Tahu

Tahu merupakan produk olahan kedelai yang diekstrak proteinnya (susu kedelai) lalu digumpalkan dengan bahan peng- gumpal (koagulan) yang dapat berupa batu tahu (kalsium sulfat), biang/whey (hasil pengepresan yang didiamkan se- malam), asam asetat atau glucono delta lactone (GDL). Perbedaan jenis penggumpal akan menentukan tekstur dan cita rasa tahu yang dihasilkan (Watanabe 1997 dalam Poysa dan Woodrow 2002). Kadar protein tahu lebih rendah dibanding tempe (sekitar 6−8,40%). Namun dengan nilai cerna sekitar 95%, tahu aman dikonsumsi oleh semua golongan umur (Kusbiantoro 1993).
Tahu merupakan gel protein kedelai, sehingga kualitas tahu, terutama ren- demen dan teksturnya sangat ditentukan oleh jumlah protein yang dapat terekstrak dalam susu kedelai sebelum digumpalkan (Poysa dan Woodrow 2002). Itulah sebab- nya jenis/varietas kedelai dan teknik pengolahan yang digunakan merupakan faktor penentu kedua kriteria tersebut (Cai dan Chang 1999; Mujoo et al. 2003). Hasil penelitian Antarlina et al. (2002) yang menggunakan 12 jenis varietas unggul kedelai, satu galur, dan dua varietas impor dengan variasi bobot 100 biji sekitar 6,10− 15,90 g menunjukkan, kadar protein biji berkorelasi positif dengan bobot tahu (merefleksikan rendemen) dan tingkat kekerasan tahu (r = 0,703**) (Gambar 3). Bobot tahu dari ke-13 varietas unggul/ galur kedelai tersebut lebih tinggi dan teksturnya lebih keras dibanding tahu dari kedelai impor, karena kadar protein bijinya (39,90−44,30% bk) lebih tinggi dibanding kedelai impor (36−36,80% bk). Korelasi positif antara kadar protein biji dengan bobot (r = 0,85**) dan tekstur tahu (r = 0,63**) juga dilaporkan oleh Poysa dan Woodrow (2002) pada 10 varietas/galur kedelai dengan menggunakan bahan penggumpal GDL, dan sedikit lebih kecil nilainya (r = 0,79** dan r = 0,59**) pada tahu dengan bahan penggumpal kalsium sulfat.
Fakta di atas memberi gambaran bahwa ukuran biji ke-15 varietas/galur kedelai tersebut tidak berpengaruh terhadap rendemen dan tekstur tahu. Itulah sebab- nya para pengrajin tahu tidak begitu mempermasalahkan ukuran biji dibanding untuk tempe yang menghendaki biji kedelai berukuran besar (Krisdiana 2005). Di samping itu, warna tahu dari biji kedelai varietas unggul juga lebih cerah dibanding tahu dari biji kedelai impor (Antarlina et al. 2002). Warna biji kedelai impor relatif lebih kusam akibat lamanya penyimpanan (6−12 bulan) sebelum dipasarkan di Indonesia, sementara biji kedelai varietas- varietas unggul tersebut langsung diolah setelah panen dan dikeringkan. Fenomena  (Ginting et al., 2009)

2.4  Kebutuhan Hara Kalium Tanaman Kedelai Di Tanah Ultisol

2.4.1 Faktor Tanah Yang Berpengaruh Terhadap Ketersediaan K

Tanah Ultisol dari lokasi penelitian bertekstur liat, mempunyai kisaran pH agak masam hingga masam, kadar C- organik, hara N, P, Ca, dan Mg tanah rendah. Demikian pula KTK dan KB serta Al dan Hdd tanah semuanya rendah. Kadar K potensial (HCl 25%) dan Kdd (NH4OAc pH 7,0) juga termasuk rendah (Tabel 2). Tingkat pelapukan bahan organik yang tinggi dan bahan induk yang miskin menyebabkan kadar C- organik dan kadar unsur hara tanah rendah. Selain itu curah hujan di lokasi penelitian termasuk tinggi sehingga pencucian unsur hara terutama hara yang kelarutannya tinggi (N dan K) di dalam tanah juga tinggi.
Menurut kriteria Puslittan (1983), tanah ini mempunyai tingkat kesuburan yang rendah dengan faktor pembatas utama sifat-sifat kimia tersebut di atas. Tanah ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian asal faktor- faktor pembatas tersebut di atas ditanggulangi terlebih dahulu. Tanah Ultisol yang berada di lahan kering dapat dikembangkan untuk pertanian tanaman pangan, seperti: jagung, kedelai, kacang-kacangan, umbi-umbian, padi gogo, dan lain-lain. (Ultisol, 2006)

2.4.2 Pengaruh K Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Pemberian K sampai dengan takaran 160 kg/ha tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 30 dan 60 HST di tiga lokasi percobaan. Kemudian pengaruhnya terhadap hasil biji kering tanaman hanya nyata di lokasi Tanjung Gusti. Namun demikian pemberian K cenderung meningkatkan hasil tanaman di semua lokasi yang dicoba. Peningkatan hasil tertinggi tercapai di lokasi Tanjung Gusti akibat pemberian 80 kg K/ha. Di lokasi tersebut hasil tanaman meningkat dari 0.81 menjadi 1,99 t/ha atau terjadi peningkatan sekitar 146%. 
Gambar  1 Pengaruh pemupukan K terhadap tinggi tanaman umur 30 dan 60 HST dan hasil biji kering kedelai pada tanah Ultisol Deli Serdang

2.4.3 Pengekstrak K Tanah

Kadar hara kalium tanah terekstrak HCl 25% paling tinggi, sedangkan pengekstrak NH4OAc pH 7,0 paling rendah diantara pengekstrak yang diteliti. Selanjutnya kadar K tanah dari  ketersediaannya untuk tanaman meningkat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan di jenis tanah lainnya. Pemupukan K nyata meningkatkan hasil tanaman kedelai, terutama di tanah-tanah yang memiliki kadar K rendah seperti di di tanah Oxisols (Nursyamsi dan Inceptisol 2005). (Nursyamsi dan Sutriadi, et al., 2004)


BAB III

PENUTUP  

3.1 Kesimpulan

§  Kesepuluh varietas kedelai Indonesia yang diuji memiliki panjang berkisar 5,20-7,28 mm, lebar 4,67-5,78 mm, berat 100 biji 6,35-10,767 g, bentuk agak bulat-lonjong, warna kuning-kuning kehijauan dan pH 6,48-6,65. Seluruh varietas tersebut memiliki panjang, lebar, berat 100 biji dan pH yang lebih kecil dari kedelai impor, kecuali varietas Pangrango yang memiliki panjang lebih besar dari kedelai impor.
§  Komposisi proksimat dari kesepuluh varietas Indonesia berdasarkan berat kering adalah 18,529-22,566% untuk kadar lemak; 30,318-35,350% untuk kadar protein; 5,526-5,958% untuk kadar abu dan kadar karbohidrat 36,834- 43,926%. Sedangkan kedelai impor dari USA mempunyai kadar lemak, protein, abu dan karbohidrat secara berurutan sebesar 22,97%, 31,06%, 5,62%, dan 40,35%.
§  Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap kedelai impor untuk bahan pangan harus diatasi dengan meningkat- kan produksi kedelai dalam negeri melalui penggunaan varietas unggul berpotensi hasil tinggi (> 2 t/ha), berbiji kuning dan berukuran besar, mirip dengan karak- teristik kedelai impor. Varietas Bromo, Argomulyo, Burangrang, Anjasmoro, Panderman, dan Grobogan mempunyai ukuran biji sama atau lebih besar dan kadar protein (37−43% bk) lebih tinggi dibanding kedelai impor (35−37% bk).
§  Ukuran biji kedelai merupakan faktor penentu kualitas tempe, terutama bobot dan volume tempe serta sifat sensorisnya. Varietas berbiji besar Burangrang, Bromo, dan Argomulyo (bobot 100 biji sekitar 15 g), sesuai untuk bahan baku tempe. Kualitas tempenya (warna atau tingkat kecerahan, tekstur, aroma, dan rasa) relatif sama dengan tempe dari kedelai impor, bahkan lebih baik karena kadar proteinnya lebih tinggi.
§  C-organik dan KTK tanah merupakan faktor tanah utama yang berpengaruh terhadap ketersediaan K di tanah-tanah Ultisol.
§  Pemberian K nyata meningkatkan hasil biji kering kedelai di lokasi Tanjung Gusti dimana hasil tanaman meningkat dari 0,81 menjadi 1,99 t/ha akibat pemberian 80 kg K/ha atau terjadi peningkatan sekitar 146%.

3.2 Saran

§  Perlunya penelitian mengenai penentuan fraksi penyusun globulin 7S dan 11S tidak hanya pada sample yang telah diamati tetapi juga pada kedelai-kedelai varietas yang lain.
§  Perlunya penelitian pemanfaatan lebih lanjut dari kedelai-kedelai tersebut untuk berbagai jenis produk seperti tahu, patties, sosis dan cheese analog.


DAFTAR PUSTAKA

Ginting, E., Antarlina, S. S., & Widowati, S. (2009). Varietas Unggul Kedelai untuk Bahan Baku Industri Pangan. Jurnal Litbang Pertanian, 28(3), 79–87.
Marliah, A., Hidayat, T., & Husna, N. (2012). PENGARUH VARIETAS DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN KEDELAI [ Glycine Max ( L .) Merrill ]. Jurnal Agrista, 16(1), 22–28.
Ultisol, D. I. T. (2006). Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol, 6(2), 71–81.
Yuwono, S. S., Hayati, K. K., & Wulan, S. N. (1996). Karakterisasi Fisik, Kimia dan Fraksi Protein 7s dan 11s Sepuluh Varietas Kedelai Produksi Indonesia. Jurnal Teknologi Pertanian, 4(2), 84–90.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peluang Usaha di Kala Pandemi yang Peduli dengan Petani

  Ide usaha yang dipilih oleh kelompok 7 yaitu produk berupa jamu herbal seperti temulawak, jahe, kunyit, kencur, dan sirih pinang dalam ...