NIM : 180321100076
Shift : B1
PRAKTIKUM
APLIKASI KOMPUTER
KEDELAI

Disusun oleh:
Nama : Vaundrawati D.S
NIM : 180321100076
Kelas : B
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Usaha-usaha pengembangan varietas-varietas kedelai unggul
telah dilakukan. Adanya varietas-varietas yang berbeda menyebabkan timbulnya
keragaman sifat fisik dan kimia kedelai yang dapat mempengaruhi produk
olahannya. Perbedaan sifat produk ini kemungkinan dapat disebabkan oleh
berbedanya fraksi protein pada berbagai jenis kedelai. Pelaksanaan penelitian
ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia serta fraksi globulin
7S dan 11S pada sepuluh varietas kedelai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa varietas
kedelai yang diamati mempunyai sifat kimia yang lebih tinggi dibanding kedelai
impor demikian pula dengan kadar fraksi 11S-nya. Komposisi proksimat dari
kesepuluh varietas berdasarkan berat kering adalah lemak 18,539- 22,57%,
protein 30,32-35,35%, abu 5,53-5,96% dan karbohidrat 36,83-43,93%. Sedangkan
kedelai impor dari USA mempunyai kadar lemak, protein, abu dan karbohidrat
secara berurutan sebesar 22,97%, 31,06%, 5,62%, dan 40,35%.
Kedelai yang diamati mempunyai kadar globulin 7S berkisar
antara 4, 48-14, 05%, dan kadar globulin 11S berkisar antara 7,32 - 56,82%.
Sedangkan kedelai impor mempunyai kadar globulin 7S dan 11S secara berurutan
sebesar 10,44% dan 53,45%. Varietas Lompobatang dan Davros mempunyai kadar
globulin 11S yang lebih tinggi disbanding kedelai impor. (Yuwono, Hayati, & Wulan, 1996)
Varietas berpengaruh terhadap tinggi tanaman umur 15 dan 30
HST. Tanaman kedelai lebih tinggi diperoleh pada varietas Grobogan dan
Anjasmoro. Jarak tanam hanya berpengaruh nyata pada tinggi tanaman umur 45 HST,
tanaman tertinggi diperoleh pada penggunaan jarak tanam 20 cm x30 cm. Terdapat
interaksi yang nyata antara varietas dan jarak tanam terhadap jumlah polong per
tanaman, jumlah polong bernas per tanaman dan berat biji per tanaman. Hasil
terbaik diperoleh pada varietas Anjasmoro dengan jarak tanam 40 cm x 40 cm. (Marliah,
Hidayat, & Husna, 2012)
Produksi kedelai Indonesia hanya
mampu memenuhi 38% kebutuhan untuk konsumsi, sedang sisanya harus diimpor.
Penggunaan varietas unggul berpotensi hasil tinggi (> 2 t/ha) merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai. Selama 15 tahun terakhir
telah dilepas 37 varietas unggul kedelai, namun adopsinya di tingkat petani
masih lambat. Selain itu, pengrajin tempe dan tahu cenderung memilih kedelai
impor karena terjamin pasokan bahan bakunya, lebih bersih, dan lebih besar
ukuran bijinya dibanding kedelai lokal. Varietas unggul baru seperti
Burangrang, Bromo, dan Argomulyo dapat menghasilkan tempe yang kualitasnya sama
dengan kedelai impor, bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi. Demikian pula
untuk tahu, varietas-varietas unggul baru yang kadar protein bijinya > 40%
basis kering (bk), menghasilkan bobot dan tekstur yang lebih baik dibanding
kedelai impor yang kadar proteinnya 35−37% bk. Kadar protein biji berkorelasi
positif dengan bobot dan tekstur tahu, terutama dipengaruhi oleh fraksi
globulin. Biji kedelai varietas Lokal Ponorogo, dan varietas unggul Wilis,
Bromo, Argomulyo serta Anjasmoro yang berwarna kuning dengan kadar protein
tinggi (37−43% bk) dan intensitas langu rendah, sesuai untuk bahan baku susu
kedelai. (Ginting,
Antarlina, & Widowati, 2009)
faktor-faktor tanah yang
berpengaruh terhadap ketersediaan K, memilih metode ekstraksi, menentukan batas
kritis, dan menghitung kebutuhan pupuk K untuk kedelai. Percobaan mengunakan
rancangan acak kelompok, lima tingkat takaran K, sembilan ulangan, dan
menggunakan kedelai sebagai tanaman indikator. Takaran kalium yang digunakan
terdiri atas: 0, 20, 40, 80, dan 160 kg K/ha dari pupuk KCl. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa C- organik dan kapasitas tukar kation tanah merupakan faktor
tanah utama yang berpengaruh terhadap ketersediaan K di tanah-tanah Ultisol.
Pemupukan K nyata meningkatkan hasil biji kering kedelai di lokasi Tanjung
Gusti dimana hasil tanaman meningkat dari 0.81 menjadi 1.99 t/ha akibat
pemberian 80 kg K/ha atau terjadi peningkatan sekitar 146%. Pengekstrak HCl 25%
ditemukan sebagai metode ekstraksi K yang sesuai untuk menduga kadar K tanah
Ultisol dalam kaitannya dengan penghitungan kebutuhan pupuk K untuk kedelai.
Kelas ketersediaan hara kalium tanah Ultisol untuk kedelai berdasarkan
pengekstrak HCl 25% adalah rendah (< 340), sedang (340-1150) dan tinggi
(>1150 ppm K2O). Kebutuhan pupuk untuk mencapai hasil maksimum adalah 210,
190, dan 150 kg KCl/ha, sedangkan untuk mencapai hasil optimum hanya 85, 2, dan
0 kg KCl/ha masing-masing untuk kelas K tanah rendah, sedang, dan tinggi. (Ultisol, 2006)
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa karakterisasi
fisik, kimia dan fraksi protein 7s dan 11s sepuluh varietas kedelai produksi
indonesia?
2.
Apa
pengaruh varietas dan jarak tanaman terhadap pertumbuhan kedelai?
3.
Apa varietas unggul kedelai untuk bahan baku industri
pangan?
4. Apa kebutuhan
hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol?
1.3 Tujuan
1.
Untuk
menegetahui karakteristik fisik, kimia dan fraksi protein 7s dan 11 s sepuluh varietas kedelai
produksi Indonesia.
2.
Untuk
mengetahui pengaruh varietas dan jarak tanaman terhadap pertumbuhan kedelai.
3.
Untuk
menegtahui varietas unguulan kedelai untuk bahan bakuindustri pangan.
4.
Untuk
mengetahui kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Karakterisasi Fisik, Kimia dan Fraksi Protein
7s dan 11s Sepuluh Varietas Kedelai Produksi Indonesia
2.1.1Sifat Fisik dan Kimia pada Varietas
Kedelai Indonesia
Berat 100 biji varietas kedelai
yang diamati berkisar antara 6,35 g hingga 10,767 g, sedangkan kedelai impor
memiliki berat 15,30 g. Berat 100 biji dapat digunakan sebagai ukuran besar
biji. Seluruh kedelai Indonesia memiliki berat yang lebih rendah dari kedelai
impor.
Panjang biji kedelai Indonesia
berkisar antara 5,20-7,28 mm, lebar 4,67-5,78 mm dan rasio panjang lebar
berkisar 1,11-1,34. Berdasarkan rasio panjang/lebar, maka bentuk biji kedelai
semua varietas yang diuji dapat digolongkan agak bulat sampai lonjong. Apabila
dibandingkan dengan panjang kedelai impor (7,150 mm), varietas Pangrango
merupakan satu-satunya varietas yang mempunyai panjang biji yang lebih besar,
sedangkan untuk lebar biji, seluruh varietas kedelai Indonesia memiliki lebar
yang lebih kecil daripada kedelai impor (6,270 mm). (Yuwono et al.,
1996)
Varieas
|
Panjang (mm)
|
Lebar (mm)
|
Rasio panjang/lebar
|
Berat 100 biji (g)
|
Malabar
|
6,730
|
5,780
|
1,16
|
10,767
|
Slamet
|
6,970
|
5,200
|
1,34
|
8,517
|
Lumajang bewok
|
6, 230
|
5,500
|
1,13
|
8,467
|
Lompo batang
|
6, 570
|
5,300
|
1,24
|
9,783
|
Petek
|
5,200
|
4,670
|
1,11
|
6,350
|
Wilis 2000
|
6,920
|
5,450
|
1,27
|
10,250
|
Pangrango
|
7,280
|
5,600
|
1,30
|
10,483
|
Singgalang
|
6,620
|
5,670
|
1,17
|
8,450
|
Sindoro
|
5,750
|
4,760
|
1,21
|
6,550
|
Davros
|
5,730
|
5,070
|
1,13
|
7,303
|
Impor
|
7,150
|
6, 207
|
1,15
|
15,300
|


2.1.2 Kadar Globulin 7S dan 11S
Berdasarkan hasil pengamatan,
dapat diketahui kadar fraksi protein globulin 7S, globulin 11S, dan rasio
7S/11Sdari sepuluh varietas kedelai Indonesia serta satu kedelai impor AS.
Komposisi fraksi protein globulin 7S , globulin 11S, dan rasio 7S/11S tersebut
dapat dilihat pada tabel 4.

2.2 Pengaruh Varietas Dan Jarak Tanam Terhadap
Pertumbuhan Kedelai
Uji F pada analisis ragam menunjukkan
bahwa terdapat interaksi yang nyata antara varietas dengan jarak tanam terhadap
jumlah polong per tanaman, jumlah polong bernas per tanaman dan berat biji per
tanaman. Rata- rata jumlah polong per tanaman jumlah polong bernas per tanaman
dan berat biji per tanaman akibat berbagai varietas dan jarak tanam terlihat
pada Tabel 1, 2 dan 3. Tabel 1 memperlihatkan bahwa jumlah polong per tanaman
pada varietas Anjasmoro meningkat secara nyata dengan penggunaan jarak tanam
yang diperlebar, yaitu dari jarak tanam 20 cm x 30 cm ke jarak tanam 20 cm x 40
cm dan 40 cm x 40 cm. Untuk varietas Grobogan, peningkatan jumlah polong per
tanaman nyata hanya diperoleh pada penggunaan jarak tanam 20 cm x 40 cm yang
tidak berbeda nyata dengan penggunaan jarak tanam 40 cmx 40 cm. (Marliah et al.,
2012)
2.3 Varietas Unggul Kedelai untuk Bahan Baku
Industri Pangan
2.3.1 Varietas Kedelai Untuk
Tempe
Tempe merupakan produk olahan
kedelai hasil fermentasi jamur Rhizopus sp. yang bernilai gizi tinggi dan
disukai cita rasanya. Cita rasa langu yang secara alami terdapat pada biji kedelai
dapat dieliminasi selama proses pengolahan tempe. Sejauh ini, bahan baku tempe
sebagian besar masih menggunakan kedelai impor yang diang- gap memiliki
kualitas fisik lebih baik dibanding kedelai lokal. Beberapa varietas unggul
baru kedelai memiliki warna dan ukuran biji yang relatif sama dengan kedelai
impor. Menurut Susanto dan Saneto (1994), ukuran biji kedelai ter- golong kecil
bila memiliki bobot 8−10 g/ 100 biji, sedang jika bobotnya 10−13 g/ 100 biji,
dan besar bila > 13 g/100 biji. Kadar protein kedelai ini juga lebih tinggi
dibanding kedelai impor, yang kemung- kinan mengalami penurunan karena lamanya
penyimpanan dari saat panen sampai dipasarkan di Indonesia.
2.3.2 Varietas Kedelai Untuk
Tahu
Tahu merupakan produk olahan
kedelai yang diekstrak proteinnya (susu kedelai) lalu digumpalkan dengan bahan
peng- gumpal (koagulan) yang dapat berupa batu tahu (kalsium sulfat),
biang/whey (hasil pengepresan yang didiamkan se- malam), asam asetat atau
glucono delta lactone (GDL). Perbedaan jenis penggumpal akan menentukan tekstur
dan cita rasa tahu yang dihasilkan (Watanabe 1997 dalam Poysa dan Woodrow
2002). Kadar protein tahu lebih rendah dibanding tempe (sekitar 6−8,40%). Namun
dengan nilai cerna sekitar 95%, tahu aman dikonsumsi oleh semua golongan umur
(Kusbiantoro 1993).
Tahu merupakan gel protein kedelai,
sehingga kualitas tahu, terutama ren- demen dan teksturnya sangat ditentukan oleh
jumlah protein yang dapat terekstrak dalam susu kedelai sebelum digumpalkan
(Poysa dan Woodrow 2002). Itulah sebab- nya jenis/varietas kedelai dan teknik
pengolahan yang digunakan merupakan faktor penentu kedua kriteria tersebut (Cai
dan Chang 1999; Mujoo et al. 2003). Hasil penelitian Antarlina et al. (2002)
yang menggunakan 12 jenis varietas unggul kedelai, satu galur, dan dua varietas
impor dengan variasi bobot 100 biji sekitar 6,10− 15,90 g menunjukkan, kadar
protein biji berkorelasi positif dengan bobot tahu (merefleksikan rendemen) dan
tingkat kekerasan tahu (r = 0,703**) (Gambar 3). Bobot tahu dari ke-13 varietas
unggul/ galur kedelai tersebut lebih tinggi dan teksturnya lebih keras
dibanding tahu dari kedelai impor, karena kadar protein bijinya (39,90−44,30%
bk) lebih tinggi dibanding kedelai impor (36−36,80% bk). Korelasi positif
antara kadar protein biji dengan bobot (r = 0,85**) dan tekstur tahu (r =
0,63**) juga dilaporkan oleh Poysa dan Woodrow (2002) pada 10 varietas/galur
kedelai dengan menggunakan bahan penggumpal GDL, dan sedikit lebih kecil
nilainya (r = 0,79** dan r = 0,59**) pada tahu dengan bahan penggumpal kalsium
sulfat.
Fakta di atas memberi gambaran
bahwa ukuran biji ke-15 varietas/galur kedelai tersebut tidak berpengaruh
terhadap rendemen dan tekstur tahu. Itulah sebab- nya para pengrajin tahu tidak
begitu mempermasalahkan ukuran biji dibanding untuk tempe yang menghendaki biji
kedelai berukuran besar (Krisdiana 2005). Di samping itu, warna tahu dari biji
kedelai varietas unggul juga lebih cerah dibanding tahu dari biji kedelai impor
(Antarlina et al. 2002). Warna biji kedelai impor relatif lebih kusam akibat
lamanya penyimpanan (6−12 bulan) sebelum dipasarkan di Indonesia, sementara
biji kedelai varietas- varietas unggul tersebut langsung diolah setelah panen
dan dikeringkan. Fenomena (Ginting et al.,
2009)
2.4 Kebutuhan
Hara Kalium Tanaman Kedelai Di Tanah Ultisol
2.4.1 Faktor Tanah Yang Berpengaruh Terhadap
Ketersediaan K
Tanah Ultisol dari lokasi
penelitian bertekstur liat, mempunyai kisaran pH agak masam hingga masam, kadar
C- organik, hara N, P, Ca, dan Mg tanah rendah. Demikian pula KTK dan KB serta
Al dan Hdd tanah semuanya rendah. Kadar K potensial (HCl 25%) dan Kdd (NH4OAc
pH 7,0) juga termasuk rendah (Tabel 2). Tingkat pelapukan bahan organik yang tinggi
dan bahan induk yang miskin menyebabkan kadar C- organik dan kadar unsur hara tanah rendah. Selain itu curah hujan di
lokasi penelitian termasuk tinggi sehingga pencucian unsur hara terutama hara
yang kelarutannya tinggi (N dan K) di dalam tanah juga tinggi.
Menurut kriteria Puslittan (1983), tanah
ini mempunyai tingkat kesuburan yang rendah dengan faktor pembatas utama
sifat-sifat kimia tersebut di atas. Tanah ini berpotensi untuk dikembangkan
menjadi lahan pertanian asal faktor- faktor pembatas tersebut di atas
ditanggulangi terlebih dahulu. Tanah Ultisol yang berada di lahan kering dapat
dikembangkan untuk pertanian tanaman pangan, seperti: jagung, kedelai,
kacang-kacangan, umbi-umbian, padi gogo, dan lain-lain. (Ultisol, 2006)
2.4.2 Pengaruh K Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Pemberian K sampai dengan takaran
160 kg/ha tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 30 dan 60 HST di
tiga lokasi percobaan. Kemudian pengaruhnya terhadap hasil biji kering tanaman
hanya nyata di lokasi Tanjung Gusti. Namun demikian pemberian K cenderung
meningkatkan hasil tanaman di semua lokasi yang dicoba. Peningkatan hasil
tertinggi tercapai di lokasi Tanjung Gusti akibat pemberian 80 kg K/ha. Di
lokasi tersebut hasil tanaman meningkat dari 0.81 menjadi 1,99 t/ha atau
terjadi peningkatan sekitar 146%.

Gambar
1 Pengaruh pemupukan K
terhadap tinggi tanaman umur 30 dan 60 HST dan hasil biji kering kedelai pada
tanah Ultisol Deli Serdang
2.4.3 Pengekstrak K Tanah
Kadar hara kalium tanah terekstrak
HCl 25% paling tinggi, sedangkan pengekstrak NH4OAc pH 7,0 paling rendah
diantara pengekstrak yang diteliti. Selanjutnya kadar K tanah dari ketersediaannya untuk tanaman meningkat.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan di jenis tanah
lainnya. Pemupukan K nyata meningkatkan hasil tanaman kedelai, terutama di
tanah-tanah yang memiliki kadar K rendah seperti di di tanah Oxisols (Nursyamsi
dan Inceptisol 2005). (Nursyamsi dan Sutriadi, et al., 2004)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
§
Kesepuluh
varietas kedelai Indonesia yang diuji memiliki panjang berkisar 5,20-7,28 mm,
lebar 4,67-5,78 mm, berat 100 biji 6,35-10,767 g, bentuk agak bulat-lonjong,
warna kuning-kuning kehijauan dan pH 6,48-6,65. Seluruh varietas tersebut
memiliki panjang, lebar, berat 100 biji dan pH yang lebih kecil dari kedelai
impor, kecuali varietas Pangrango yang memiliki panjang lebih besar dari
kedelai impor.
§
Komposisi
proksimat dari kesepuluh varietas Indonesia berdasarkan berat kering adalah
18,529-22,566% untuk kadar lemak; 30,318-35,350% untuk kadar protein;
5,526-5,958% untuk kadar abu dan kadar karbohidrat 36,834- 43,926%. Sedangkan
kedelai impor dari USA mempunyai kadar lemak, protein, abu dan karbohidrat
secara berurutan sebesar 22,97%, 31,06%, 5,62%, dan 40,35%.
§
Tingkat
ketergantungan yang tinggi terhadap kedelai impor untuk bahan pangan harus
diatasi dengan meningkat- kan produksi kedelai dalam negeri melalui penggunaan
varietas unggul berpotensi hasil tinggi (> 2 t/ha), berbiji kuning dan
berukuran besar, mirip dengan karak- teristik kedelai impor. Varietas Bromo,
Argomulyo, Burangrang, Anjasmoro, Panderman, dan Grobogan mempunyai ukuran biji
sama atau lebih besar dan kadar protein (37−43% bk) lebih tinggi dibanding
kedelai impor (35−37% bk).
§
Ukuran
biji kedelai merupakan faktor penentu kualitas tempe, terutama bobot dan volume
tempe serta sifat sensorisnya. Varietas berbiji besar Burangrang, Bromo, dan Argomulyo
(bobot 100 biji sekitar 15 g), sesuai untuk bahan baku tempe. Kualitas tempenya
(warna atau tingkat kecerahan, tekstur, aroma, dan rasa) relatif sama dengan
tempe dari kedelai impor, bahkan lebih baik karena kadar proteinnya lebih
tinggi.
§
C-organik
dan KTK tanah merupakan faktor tanah utama yang berpengaruh terhadap
ketersediaan K di tanah-tanah Ultisol.
§
Pemberian
K nyata meningkatkan hasil biji kering kedelai di lokasi Tanjung Gusti dimana
hasil tanaman meningkat dari 0,81 menjadi 1,99 t/ha akibat pemberian 80 kg K/ha
atau terjadi peningkatan sekitar 146%.
3.2 Saran
§
Perlunya
penelitian mengenai penentuan fraksi penyusun globulin 7S dan 11S tidak hanya
pada sample yang telah diamati tetapi juga pada kedelai-kedelai varietas yang
lain.
§
Perlunya
penelitian pemanfaatan lebih lanjut dari kedelai-kedelai tersebut untuk
berbagai jenis produk seperti tahu, patties, sosis dan cheese analog.
DAFTAR PUSTAKA
Ginting,
E., Antarlina, S. S., & Widowati, S. (2009). Varietas Unggul Kedelai untuk
Bahan Baku Industri Pangan. Jurnal Litbang Pertanian, 28(3),
79–87.
Marliah, A., Hidayat, T., & Husna, N. (2012). PENGARUH VARIETAS DAN
JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN KEDELAI [ Glycine Max ( L .) Merrill ]. Jurnal
Agrista, 16(1), 22–28.
Ultisol, D. I. T. (2006). Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah
ultisol, 6(2), 71–81.
Yuwono, S. S., Hayati, K. K., & Wulan, S. N. (1996). Karakterisasi
Fisik, Kimia dan Fraksi Protein 7s dan 11s Sepuluh Varietas Kedelai Produksi
Indonesia. Jurnal Teknologi Pertanian, 4(2), 84–90.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar